TX Nefario - шаблон joomla Форекс
Wednesday, 06 May 2015 00:00

Berteman dengan anak-anak pasien Kanker Featured

Rate this item
(0 votes)

Do more than belong: participate. Do more than care: help. Do more than believe: practice. Do more than be fair: be kind.

Do more than forgive: forget. Do more than dream: work.
~ William Arthur Ward 

Tampak keceriaan sejumlah anak yang tinggal di sebuah rumah berlantai 2  berlokasi di Jalan Anggrek Neli Murni A110 Slipi. Rumah ini layaknya seperti rumah biasa, tapi ketika kita masuk kedalamnya kita akan menemukan anak-anak yang sedang berlari kesana kemari, berteriak, bernyanyi, seperti layaknya anak normal, tidak ada kesedihan sedikitpun tampak di raut wajah mereka. Kalau kita cermati secara seksama, terlihat gambaran fisik yang berbeda dari anak pada umumnya. Ada yang terlihat tak sempurna secara fisik dan ada yang terlihat seperti tak ada masalah. Dibalik keceriaan, terbersit adanya penderitaan fisik yang dirasakan dan bahkan mungkin tak satupun yang akan bisa menebak seberapa lama mereka kan bertahan dengan penyakitnya. Keceriaan tersebut sangat mengharukan dan juga memberi inspirasi. Anak-anak yang hanya “satu centimeter” dari kematian, tetap bisa ceria. Orang tua yang tadinya sedih, lambat laun merasakan tumbuhnya rasa pasrah dan menatap masa depan anak mereka dengan ceria. Sementara di belantara lain Jakarta, banyak orang “cemberut” dengan kemewahannya.

Rumah yang ramai dengan keceriaan anak ini  lebih dikenal sebagai Rumah Anyo, dimana didalamnya tertampung secara rutin bergantian tidak kurang dari 20 lebih anak-anak penderita kanker yang sedang menjalani pengobatan di RS Kanker Dharmais dan 1 orang anggota keluarga pendamping setiap pasiennya. Umumnya pasien ini adalah anak-anak yang karena ketidakmampuan keluarga untuk menanggung pengobatan, kebanyakan  dari mereka terpaksa harus dipasrahkan menjalani penderitaan dan tinggal dirumah mereka yang umumnya jauh dari jangkauan layanan petugas kesehatan. Rumah Anyo adalah rumah singgah bagi mereka yang secara ekonomi masih membutuhkan bantuan untuk pengobatan. Rumah yang diisi silih berganti oleh anak-anak yang menderita kanker, baik itu kanker mata, kanker darah, kanker yang juga menyerang organ-organ tubuh lain. Tentunya penghuninya ada yang berhasil sembuh dan juga ada yang tak tertolong nyawanya.

Rumah ini tumbuh karena kepedulian. Kepedulian terhadap anak-anak penderita kanker yang pada umumnya berasal dari keluarga yg kurang mampu secara ekonomi, dan berasal dari seluruh Nusantara.  Kebanyakan dari mereka tak sanggup melakukan perawatan di Rumah sakit di daerahnya oleh sebab tidak memiliki kemampuan ekonomi dan juga karena rumah sakit daerah tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk merawat anak-anak ini. Walau mereka sudah berobat di rumah sakit kanker terdekat, namun banyakan dari mereka tak  tertampung di rumah sakit kanker terdekat tersebut.

Tak satupun para sukarelawan di rumah ini dibayar, semuanya dilakukan secara sukarela, sesuai dengan kemampuan masing-masing, ada yang mengabdikan dirinya melalui sumbangan uang dan natura, dan ada yang membantu dalam aktivitas rutin sehari-hari, seperti menemani bermain, hingga menjadi guru dadakan belajar membaca, berhitung bahkan menemani bernyanyi, menggambar dan bercerita. Semua dilakukan karena adanya kepedulian terhadap masa depan dari anak-anak penderita kanker tersebut. Karena pengetahuan yang dimiliki dari pembelajaran bahwa kanker pada usia dini lebih mudah diobati, para sukarelawan ini merasa penting berbuat dengan segera sebelum anak-anak tumbuh dan lebih menderita.

Apa sih yang ada di Rumah Anyo ini? Sama seperti layaknya rumah, tentunya ada ruang tidur, ruang makan, ruang beranda bermain bagi anak-anak, dapur dan tempat mencuci pakaian. Rumah ini sengaja di setting untuk membangun kebersamaan antara anak-anak penderita dan juga keluarga yang merasa senasib dan sepenanggungan. Orang tua memanfaatkan kesempatan untuk saling curhat dan berkeluh kesah. Dan bahkan mereka kadangkala sangat terhibur karena banyak sukarelawan yang sangat berempati dan berkunjung ke tempat ini. Sukarelawan yang tidak terbatas akan gender, usia, pekerjaan, agama, latar belakang ekonomi dan profesi, maupun batasan-batasan lainnya.

Tidak seperti layaknya bangsal dan kamar pasien di rumah sakit, tempat ini berusaha memberikan suasana “rumah” bagi pasien dan keluarganya. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh rumah Anyo, untuk tetap membangun spirit sembuh bagi pasiennya yang tinggal disana. Dari kegiatan yang bersifat menghibur hingga kegiatan yang terkait pengobatan. Selain ada sesi untuk anak, ada juga sesi-sesi pembelajaran bagi orang tuanya dan juga sesi-sesi counseling sehingga membantu memperkuat mental orang tua dalam menghadapi kesedihan mereka.

Setiap anak yang sakit, bisa ditemani oleh salah satu orang tuanya, dan orang tua diharapkan kontribusi sukarelanya hanya 5.000,- per hari, untuk menjaga spirit agar selalu berusaha, dan sama-sama memikul tanggung jawab. Tentunya biaya ini tak sebanding dengan biaya operasional sehari-hari yang ditanggung yayasan ini. Seperti layaknya rumah, semua kegiatan baik itu memasak dan mencuci dilakukan secara kolektif oleh para ibu yang sedang mendampingi anaknya tersebut. Tanpa dikomando, mereka sudah menjalankan peran mereka masing-masing saling bantu satu sama lain, tidak terkotak-kotak oleh karena perbedaan SARA. Mereka saling bahu membahu, membersihkan tempat tidur, mengepel lantai, mencuci baju dan piring hingga memasak.

Para sukarelawan dan sosiawan rajin mengunjungi rumah ini, ada atau tidaknya pasien anak pada saat itu. Semua datang dengan penuh ketulusan, baik secara pribadi maupun mewakili institusi perusahaan maupun kelompok-kelompok social. Mereka umumnya terketuk karena merasa bahwa Kepedulian ini tentunya merupakan barang langka ditengah kehidupan individual yang hedonis, dimana setiap individu hanya berusaha menambah kepemilikan modal tanpa keinginan menguranginya apalagi membaginya dengan pihak lain.

Para sukarelawan mendobrak tradisi kepedulian yang telah lama mendekati kepunahan di bumi Indonesia ini. Andaikata semakin banyak sukarelawan yang peduli di Indonesia, tentunya hal ini akan membantu meringankan penderitaan pasien-pasien tersebut. Banyak sebenernya orang yang mampu ingin berbagi, namun banyak dari mereka karena kesibukannya tidak mengetahui lembaga-lembaga mana yang tepat untuk menjadi tempat bagi donasi mereka. Oleh karena itu disetiap lembaga atau yayasan perlu rasanya sedikit “menjual” diri mereka sehingga para dermawan mengetahui secara mendalam program-program yang mereka jalankan.

Selama ini banyak terjadi kesalahkaprahan ketika melihat susahnya lembaga-lembaga ini mengetuk hati dermawan untuk menyumbangkan sedikit dana mereka. Kebanyakan dari mereka datang untuk meminta sumbangan. Tentunya hal ini tidak mudah mendapat kepercayaan karena praduga rawan penyelewengan. Tidak bisa dipungkiri banyak yayasan yang cenderung gurem, dan bahkan banyak kita temui peminta-minta yang berkedok sukarelawan mewakili yayasan tertentu di setiap perhentian lampu lalu lintas. Kondisi ini menyebabkan ketidakpercayaan dari para dermawan. Menyadari hal itu, pengurus rumah Anyo, mencoba mengajak para dermawan untuk melihat langsung kondisi rumah anyo. Mereka ingin mengajak terlibat, dan tidak sekedar hanya meminta sumbangan, tetapi memberikan ruang bagi para dermawan untuk terjun langsung dan terlibat  secara lebih dalam. Apapun bantuan diterima, sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Dengan pelibatan ini tentunya memberikan warna tersendiri bagi para dermawan. Kepedulian yang muncul, ditumbuhkan bukan  karena hasil “cuap-cuap” pengurusnya, tetapi karena hasil melihat realita yang ada. Andaikata spirit ini bisa ditumbuhkan untuk kepedulian para pasien anak untuk penyakit lainnya seperti penderita thalasemia, autis, penderita gangguan mental, penyakit ayan, tuna bawaan, penderita jantung, anemia anak, gangguan ginjal, polio dan kelumpuhan dan penyakit2 lainnya, maka tentunya penderitaan anak bangsa akan sedikit terobati. Kita butuh banyak Rumah Anyo- Rumah Anyo lainnya. Kita butuh banyak sukarelawan untuk membantu anak bangsa melalui penderitaanya dan menggapai kebahagiannya.

Last modified on Wednesday, 06 May 2015 23:02
Super User

Tolong komentar dengan kata-kata yang tidak menyinggung

More in this category: Bila pekerja adalah preman »
Login to post comments