TX Nefario - шаблон joomla Форекс
Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Manusia (13)

Office Politics yang Destructive

Ajang Pekerja Tak Kompeten

9 Juni 2020

“Persahabatan bagai kepompong, lalu berubah menjadi kupu-kupu”, adalah lirik sebuah lagu yang cukup trendy di akhir tahun 2010-an. 

Mengamati perubahan ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu sangatlah menarik. Siklus kehidupan terlihat tampak sederhana, namun yang tak terbayang adalah bagaimana perubahan dari seekor ulat, yang kadangkala menjijikkan, menggelikan dan bahkan menakutkan bisa berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan berwarna-warni. Transedentalnya, itulah kemahakuasaan Tuhan. 

Transformasi kepompong kupu-kupu ini dapat dipersonifikasikan ketika seseorang mengalami perubahan dari sesuatu yang terkesan kurang menarik, kurang baik, kurang sesuai dengan pandangan umum yang ada dan bahkan mungkin kurang disukai oleh pihak lainnya, berubah menjadi sesuatu yang menarik, disukai dan dapat diterima oleh pihak lainnya. Namun seperti yang diuraikan diatas , proses perubahannya tentunya memiliki tahapannya sendiri, yang kadangkala tak banyak diketahui oleh pihak lainnya. Perubahan apa yang terjadi pada seekor kupu-kupu ternyata memerlukan beberapa tahapan yaitu dari telur, berubah menjadi larva/caterpillar, larva ini tumbuh menjadi ulat dan memakan daun dimana telur tersebut berada, selanjutnya pada fase tertentu ulat itu berubah menjadi kepompong, bertahan hingga beberpa hari lalu menetas menjadi kupu-kupu. Pada saat menetas, sayap kupu-kupu masih dalam kondisi lunak, kurang lebih tiga atau empat jam kemudian mulai menguat sejalan dengan terpompanya darah ke seluruh jaringan sayap. 

 
HUMAN RESOURCE MANAGEMENT : Sebuah Pengantar.
1 Mei 2020

Trend Digitalisasi membuat kajian HR semakin berkembang dan menarik. Bisnis tidak lagi berkembang secara konvensional namun sudah dibantu oleh daya dukung teknologi yang berkembang sangat pesat. Perkembangan industri kearah digitalisasi ini tidak hanya berdampak pada perubahan akan tuntutan kompetensi HR, namun berpengaruh pada tiga hal yang mendasar yaitu perubahan pekerjaan, perubahan cara kerja, maupun perubahan skill yang diperlukan untuk menuntaskan pekerjaan. Perubahan pekerjaan ditandai oleh munculnya kategori job baru menggantikan job yang ada. Perubahan cara kerja ditandai oleh adanya transformasi dimana dan kapan pekerjaan dilakukan. Perubahan skill yang dibutuhkan ditandai oleh Serangkaian skill baru baik yang dibutuhkan oleh pekerjaan lama ataupun baru akan mengalami perubahan.

HUMAN RESOURCE MANAGEMENT
Serangkaian proses bisnis antara fungsi dan sub fungsi.
 
7 Mei 2020
  
Banyak lulusan baru yang bekerja di bidang Human Resources ditempatkan secara spesifik pada satu fungsi HR. Tidak banyak induksi yang diberikan kepada mereka terkait HR secara generik, mereka seolah-olah dari awal telah diarahkan untuk menguasai satu fungsi HR secara khusus. Banyak perusahaan menganggap bahwa ilmu HR dapat dipelajari secara mandiri, dengan dalih bahwa tidak cukup waktu dan sumber daya untuk mengajarkan secara detail tentang HR, atau lambat laun mereka akan tahu sendiri apa itu HR. Bahkan ada yang naif bahwa ilmu HR harusnya sudah dipelajari di sekolah. Mereka direkrut untuk bekerja, bukan belajar.

Tidak sedikit juga yang merekrut karyawan baru yang sudah pengalaman 1-2 tahun untuk menjadi staff atau analis, dengan alasan sederhana yaitu minimum mereka sudah pernah bekerja di bidang HR. Namun, sama halnya dengan rekrutmen untuk lulusan baru, mereka tidak pernah digali apakah si kandidat telah memiliki pengalaman yang holistik tentang HR atau tidak. Oleh karenanya rekruter juga wajib menggali secara lebih mendalam tentang hal ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa besar kecilnya perusahaan berpengaruh pada pendulum spesialis dan generalis ini. Banyak orang mengatakan bahwa semakin besar perusahaan, maka praktisi HR diarahkan ke arah spesialis, dengan tujuan agar lebih fokus pda spesialisasinya. Semakin kecil perusahaan maka semakin generalis lah yang dibutuhkan. Mengingat skope pekerjaan yang tidak sekompleks bila perusahannya adalah perusahaan berskala besar.

Success is walking from failure to failure with no loss of enthusiasm.
    Winston Churchill 

Beberapa tahun yang lalu, sebelum grup lawak Srimulat bubar, saya pernah menonton adegan lucu ketika Tarzan tokoh utama episode saat itu bertanya kepada seorang pelawak lainnya yang berperan sebagai “batur” atau pembantu rumah tangga. Pertanyaannya sangat sederhana, tapi kualitasnya pertanyaannya mungkin akan membuat seorang professor akan mengernyitkan dahinya. Ia bertanya, bagaimana memberantas kemiskinan di Indonesia? Tentunya pertanyaan ini tidak mudah dijawab oleh seorang professor ekonomi dan bahkan  presiden sekalipun, karena butuh berpuluh-puluh tahun untuk bisa merumuskan kebijakan yang belum tentu juga berhasil diimplementasikan agar bisa  mengentaskan kemiskinan. Jawaban tak terduga dari pertanyaan itu dan sedikit kejam namun membuat kita tersenyum adalah sangat sederhana, yaitu “bunuhi saja yang miskin-miskin”. Walaupun terkesan kejam dan melanggar HAM, jawaban yang disertai canda terkesan pragmatis sifatnya.

Setelah melampaui fase perjuangan setengah abad pertama, ditengah-tengah adanya perasaan bersyukur, tersirat ada pekerjaan rumah cukup berat yang harus dipikirkan dan dijalankan Kompas Gramedia (KG) ke depan. Persaingan yang sangat ketat menuntut setiap unit usaha KG untuk bekerja lebih keras melebihi apa yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuannya tentuagar pencapaian menjadi lebih baik, bertumbuh dan berkembang sesuai visi yang ditetapkan.

Menghadapi tantangan ke depan, setiap unit bisnis sejatinya memetakan ulang apa saja kebutuhan bisnis jangka panjangdan bagaimana cara untuk mencapainya. Dalam rangka tersebut, tentunya setiap elemen dalam unit bisnis KG terutama SDM-nya harus bertransformasi. SDM dipastikan harus lebih produktif dan profesional.

Teladan Wednesday, 06 May 2015 00:00

Teladan


Try not to become a man of success but rather try to become man of value
Albert Einstein
 
Dimana-mana kita sering mendengar orang berbicara tentang keteladanan baik itu di warung-warung kopi, di lingkungan kerja, dalam diskusi-diskusi akademis, bahkan dalam talk show di televisi dan kebanyakan cenderung dengan nada yang sedikit “miring”, ‘miris”, maupun kadangkala diwujudkan oleh munculnya perasaan “missing”. Temanya tak lebih sekitar kekecewaan dan kekhawatiran akan ketiadaan figure yang dapat diteladani dan dapat dijadikan contoh untuk diwujudkan dalam tindakan bersama dalam kehidupan sehari-hari dan juga ketidakpercayaan terhadap figure kepemimpinan yang sudah ada.
 
 
Keteladanan secara harfiah dapat dimaknakan sebagai suatu kondisi dimana kita atau siapapun dapat memberikan contoh kepada yg dipimpin atau masyarakat tentang nilai , sikap dan prilaku yang patut diikuti atau nilai-nilai yang bisa dikembangkan sebagai sebuah nilai bersama dalam kelompok ataupun di masyarakat. 
 
Hari ini, rabu 11 juli 2012, di ibukota negara tercinta kita, sedang dilaksanakan sebuah perhelatan besar untuk memilih DKI 1 sebuah istilah yang diperuntukkan bagi siapapun yang menjabat gubernur di provinsi DKI Jakarta . Pilkada DKI, diakui atau tidak merupakan barometer perpolitikan nasional, sehingga semua partai politik maupun independent menganggap bahwa Pilkada DKI sebagai gambaran Pemilu nasional.  Berdasarkan data survey Indo Barometer yang diris oleh Media Indonesia.com tanggal 12 Juli 2012, dari 6,9 juta penduduk yang memiliki hak pilih  yang menggunakan hak pilihnya hanyalah 62,95 persent. Dari angka tersebut terlihat bahwa ada peningkatan kenaikan Golput sebesar 2 % dari Pilkada tahun 2007. Besarnya angka golput menunjukkan bahwa antusiasme untuk memilih pimpinan daerah sudah mulai menurun. Kekhawatiran ini sebenenarnya sudah dapat diprediksikan dari awal oleh pemerintah hingga tingkat kementerian dalam negeri, sehingga mendorong mendagri mengeluarkan Surat Keputusan No 270-140 tentang Libur Pilkada DKI,  SK kemendagri ini kemudian dilanjutkan oleh keluarnya Pergub No 35 tahun 2012 yang mengatur tentang libur pada saat Pilkada berlangsung. Walaupun isinya sedikit salah kaprah  karena meliburkan perusahaan yang ada di DKI Jakarta , padahal tidak semua karyawannya memiliki hak pilih di DKI Jakarta, namun upaya ini diharapkan sedikit membantu untuk mengurangi kecenderungan Golput oleh karena tuntutan pekerjaan. 
Penjaga Gawang Wednesday, 06 May 2015 00:00

Penjaga Gawang

The greater danger for most of us lies not in setting our aim too high and falling short;
 but in setting our aim too low, and achieving our mark.
~ Michelangelo
 
Penjaga gawang adalah istilah umum yang sering kita temui bila kita berbicara tentang sepakbola, olahraga terpopuler di dunia. Dia adalah orang yang ditunjuk untuk berdiri didepan gawang dan dibawah mistar, serta yang diberi kelebihan dapat memegang bola dikala sedang dimainkan kecuali keluar dari garis batas yang telah ditentukan. Perannya tentunya tidak ringan yaitu sebagai orang terakhir yang bertanggung jawab untuk mengamankan gawang dari kebobolan.
 
Tapi akhir-akhir ini tanpa disadari banyak dari kita menyebut dirinya sebagai seorang penjaga gawang, dan hampir semuanya mengaku berperan sebagai penjaga gawang untuk menunjukkan diri bahwa masing-masing juga memegang peran yang tidak ringan dalam sebuah peran keorganisasian. Sah-sah saja hal ini ini diyakini, mengingat dalam pertandingan sepabola pun pada dasarnya semua peran adalah penjaga gawang. Apakah dia seorang penyerang, pemain sayap, pemain tengah, maupun gelandang bertahan, dan kadangkala pelatih diluar garis lapangan pun berhak menyandang peran sebagai penjaga gawang. Tapi apapun argumentasinya, dalam konotasi yang sebenarnya dan secara peran jabatan, penjaga gawang adalah tetap satu dalam sebuah permainan, yang lainnya adalah membantu penjaga gawang agar gawang tidak kebobolan.

Memberikan pembelajaran kepada mahasiswa tentang kinerja ibarat kita berada di depan sebuah cermin, memandang dari ujung rambut hingga ujung kaki, apakah yang kita sampaikan juga menggambarkan apa yang  telah kita lakukan. Seperti pada umumnya pembelajaran prilaku manusia (behavioral study) sangatlah tidak mudah, berbeda dengan saat kita mencari guru ataupun dosen yg berbicara tentang manajemen yang mengupas pembelajaran teoritis, tentulah sangat berbeda.  Memberikan pembelajaran tentang prilaku seperti ibarat “menguliti” diri sendiri, oleh karena ada mirror effect didalamnya.  Logika sederhana terlihat dari ilustrasi berikut yang  dicontohkan oleh susahnya siswa untuk diajarkan untuk memerangi korupsi oleh dosen yang mereka ketahui sering  suka korupsi, minimum korupsi waktu saat mengajar. Dapatkah orang mempercayai seorang Dr., ketika ingin mengobati sakit flu, sementara Dr. yang mengobati sedang batuk-batuk di depan pasien tersebut. Kepercayaan pasien bisa saja luntur, dan obat apapun rasanya tak manjur.
 
 
Peringatan Hari Buruh Sedunia , yg selalu dirayakan tanggal 1 Mei setiap tahunnya, acapkali dijadikan momentum bagi buruh/pekerja di Indonesia maupun di dunia dalam menggaungkan ide-ide perjuangan buruh  melalui upaya menempatkan buruh dalam posisi  yang sama dan berimbang dalam konteks mikro maupun  makro ekonomi, serta dalam konteks social dan politik negara. Walaupun kebanyakan ide tersebut belum mampu diterapkan secara nyata dalam rangka perjuangan hak-hak untuk mendapatkan porsi yang adil dalam hubungan ketenagakerjaan, namun semangat untuk selalu menggaungkan ide-ide tersebut setiap tahunnya tidaklah pernah pudar.
Bila kita cermati  pergerakan pekerja dan serikat pekerja/buruh di Indonesia secara lebih mendalam, maka kita temukan banyak sekali fenomena yang cukup menarik dari kemunculan serikat pekerja.buruh serta ide-ide yang diperjuangkannya. Berkaitan atau tidak dengan pertumbuhan serikat buruh/pekerja di dunia, sejak krisis moneter tahun 1998, banyak sekali tumbuh serikat buruh/pekerja baru di Indonesia, yg memiliki keinginan  awal untuk membantu para pekerja dalam memperjuangkan haknya sebagai akibat PHK besar-besaran yang dialami pada saat itu, dimana jutaan pekerja tidak memperoleh pesangon yang memadai dan  hilangnya sumber pendapatan rutin mereka secara tiba-tiba. Para pengusaha yang juga mengalami krisis, tidak sanggup membayar pesangon bagi para pekerjanya, dan guna mengamankan bisnisnya, berupaya melakukan efisiensi dan restrukturisasi bisnis, yang berdampak tidak hanya penutupan usaha tapi juga  pengurangan tenaga kerja.
Dalam konteks penyelamatan bisnis tentunya sah-sah saja bagi pengusaha untuk melakukan efisiensi melalui pengurangan tenaga kerja, namun upaya tersebut tidaklah mudah dapat diterima oleh logika pekerja. Walaupun beberapa perusahaan besar menyatakan bahwa pengurangan karyawan merupakan langkah terakhir, namun realita bisnis saat itu menunjukkan data yang bertentangan dimana angka-angka pengangguran meningkat secara signifikan.
Hampa Wednesday, 06 May 2015 00:00

Hampa


Prof . Yohannes Surya , dalam blognya, menulis jawaban terhadap pertanyaan seorang penanya tentang apa  arti sebenarnya dari kata ruang hampa. Saya mencoba mengutipnya sebagai berikut :
 
 
Udara di atmosfer kita terdiri atas campuran berbagai gas yang jaraknya saling berjauhan. Ruangan di antara gas-gas ini dapat diisi uap air. Ketika uap air ini mengembun, maka ruangan yang diisi uap air akan menjadi hampa. Ruang hampa ini tidak bisa terdeteksi radar karena tidak ada partikel yang dapat memantulkan gelombang yang dipancarkan radar itu. Inilah yang menyebabkan pesawat celaka.
Ruang hampa bisa terjadi di darat bahkan kita bisa membuat ruang hampa, yaitu dengan cara mengisap udara suatu ruang menggunakan pompa isap. Walaupun begitu, kita tidak bisa membuat ruang yang benar-benar hampa udara. Ruang hampa yang paling hampa yang berhasil dibuat manusia saat ini masih mengandung sekitar 10 juta partikel udara setiap liternya.”
 
Akhir-akhir ini kata-kata hampa sering dipergunakan untuk pengertian yang berbeda dari pengertian arfiahnya. Kata hampa sering dimaknakan sebagai sesuatu yang “kosong”, sesuatu yang hilang dalam sebuah ruang tubuh manusia tapi bukan berkonotasi kebendaan. Tak jarang kita mendengar istilah “relung hati yang hampa”, “bathin yang hampa”, dan “pikiran yang hampa”, semuanya merupakan penggambaran yang lebih dikondisikan oleh sesuatu   yang bersifat batiniah dan rasa. Tapi mungkin sangat benar apa yang disampaikan Prof. Yohannes, bahwa kita tidak akan bisa membuat sebuah ruang yang benar-benar hampa, demikian pula ketika kita menghubungkannya dengan hati dan pikiran. Ketika kita berbicara hati dan pikiran, kehampaan berkaitan dengan keluhan, keinginan dan tuntutan akan perhatian, agar apa yg hampa dapat terisi kembali. Seperti arfiahnya, kehampaan lebih disebabkan oleh adanya “sesuatu” yang hilang,  dan besar kecilnya yang hilang tergantung pada konsidisi psikologis dari siapa yang mengalaminya. Ketika terjadi kehampaan, tubuh secara alamiah akan mencari resources yang tepat untuk mengisinya.

Walapun luarnya hitam yang penting isinya putih

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Phone: 0816-1339935

 
 

Flickr Images

portfolioportfolioportfolioportfolioportfolioportfolioportfolioportfolioportfolio