TX Nefario - шаблон joomla Форекс
Wednesday, 29 April 2015 00:00

Biography Featured

Rate this item
(0 votes)

Masa kecil yang membahagiakan

Sebagai anak keempat dari enam bersaudara yang dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang bahagia, tentunya saya tidak bisa mengklaim bahwa saya tidak bahagia walaupun ditengah keterbatasan-keterbatasan yang ada, saya tumbuh dalam lingkungan dengan disiplin kemiliteran yang ketat. Hidup dalam kehidupan asrama/komplek, atau lebih dikenal dengan istilah anak kolong. Kehidupan di komplek militer  membuat kita seakan lebih kuat menghadapi keterbatasan-keterbatasan yang ada. Hal ini di dorong oleh kondisi bahwa keterbatasan itu dirasakan oleh sebagian besar penghuni komplek, jadi tak ada pembanding yang mendorong kita untuk bersedih  kala menghadapi kesusahan.

Keberuntungan yang dirasakan saat itu adalah spirit keberagaman dan kebersamaan. Kompleks militer adalah tempat yang baik bila kita ingin belajar tentang kebhinekaan, karena di kompleks kita bisa menemui penghuni dari berbagai suku, ada Jawa, Manado, Sunda, Flores, Batak, Dayak, Ambon, Bugis, bahkan sudah ada suku Tionghoa yg menjadi teman saat itu, walaupun jumlahnya tak sebesar suku lain. Pemahaman akan keberagaman inilah yang membantu ketika nantinya saya memutuskan untuk merantau ke Jawa. Keberagaman tersebut terasa indah bila disertai dengan kebersamaan, sama-sama susah, sama-sama senang, sama-sama laper dan sama-sama kenyang.

Pada umumnya, anak-anak kolong bersekolah di SD yang dikelola oleh tentara. SD Kartika Chandra II namanya. SD yang berlokasi di sekitar kompleks juga, dan mudah dijangkau dari rumah. Dapat dibayangkan pergaulannya, ya dengan orang-orang itu juga. Teman sekolah juga teman bermain dirumah. Berantem di lingkungan rumah kadangkala terbawa hingga ke sekolah. Tidak hanya teman yang berasal dari lingkungan rumah. Bahkan guru-gurunya-pun kadangkala adalah istri dari tentara dan berada dalam lingkungan RT dan RW yang sama. Ada sisipositifnya, yaitu perkembangan selama di sekolah akan selalu terpantau, karena seringkali menjadi bisik-bisik tetangga. Bisik-bisik antara guru dan orangtua yang kebetulan bertetangga.

Pelajaran sekolah yang paling dirasakansusah saat itu adalah pelajaran membaca. Membaca pada awalnya terasa susahbagi saya, dan selalu menjadi momok yang membuat perut selalu melilit melihat guru bahasa saat lewat di depan mata. Tapi akhirnya secara revolusioner bisa membaca dalam waktu seminggu setelah diultimatum guru, karena kemungkinan tak naikkelas ke kelas tiga karena tak lancar membaca.Perasaan terdesak kadangkala membuat kita menjadi sedikit kalang kabut berusaha untuk bisa.  Mungkin juga sudah menjadi konspirasi antara guru dan orang tua, sejak ultimatum itu dan sejak membaca lancar, ranking di kelas meningkat drastis, dari kelas 3 hingga kelas 6 selalu menjadi juara kelas, kalau tidak juara 1 ya juara 2. Walaupun tak ada satupun hadiah yang diterima dari orang tua terhadap keberhasilan ini, saya masih merasa bahagia, karena ketidakmampuan memberikan hadiah bukan karena tak ingin memberikan hadiah tapi lebih disebabkan karena ketidakmampuan ekonomi keluarga saat itu.

Ketidakmampuan ekonomi, tentunya hanya bisa dibandingkan dengan anak-anak diluar komplek militer. Kalau di komplek semuanya seperti “komunis”, karena tak ada perbedaan mencolok mengenai kaya atau tidak kaya. Walaupun demikian, keinginan untuk punya uang tentunya selalu ada. Banyak pekerjaan yang menghasilkan uang “receh” telah dicoba, lumayan menambah bekal sehari-hari. Dari pekerjaan mengumpulkan bahan-bahan aluminium bekas odol, panci dll, yang dijual ke pengepul hingga menjadi pemungut bola tenis di lapangan tenis outdoor terdekat. Ketika dikumpulkan, penghasilan tampak lumayan bisa membeli sepeda kecil bekas, walaupun untuk memiliki uang ini harus bangun jam 4 pagi setiap hari dan jam 5 pagi harus menyapu lapangan tenis outdoor yang setiap paginya sangat kotor karena daun-daun dan bunga kuning akasia yang bertebaran dimana-mana. Pengerjaan menyapu adalah salah satu syarat undian untuk menjadi pemungut bola tenis sore hari dan malam hari atau pagi hari berikutnya. Nggak enaknya pekerjaan ini bila dilakukan pada saat musim hujan, karena banyak daun akasia dan bunga akasia yang berwarna kuning kecil yang jatuh dilapangan, dan sangat susah sekali untuk dibersihkan. Hanya keinginan untuk mendapatkan jatah jaga saja, pekerjaan yang tak mengenakkan tersebut harus dijalani.

Seperti halnya anak “ingusan” lainnya, sepak terjang di SD dilalui begitu saja. Yang berkesan hanyalah kadangkala tidak 100 persen mendapatkan bimbingan orang tua, mengingat ibu bekerja dan harus menghidupi 5 anak lainnya. Sedangkan ayah/papah, seperti halnya keluarga yang lainnya, kebanyakan tidak berada di rumah, mengingat ditugaskan oleh Negara di Timor Timur sana. Bahkan saking lamanya bertugas disana, banyak anak kecil yang tak mengenali wajah ayahnya. Hal ini dialami oleh adik terkecil saya. Suatu ketika ia memanggil om kepada ayahnya yang baru datang dari Timor Timur dengan kepala plontos dan berikat-ikat apel menyertainya. Begitu marahnya papah kepada ibu mengenai hal ini, tapi lambat laun menyadari bahwa foto yang dikirim ke rumah selama ini tak ada satupun yang sama dengan wajah plontos tersebut. Kadangkala berjanggut tebal, kadangkala gondrong, kadangkala cukur rapi dan klimis. Kebanyakan anak saat itu tidak pernah menempatkan ayahnya sebagai figur, karena pada saat itu tak satupun yang bisa memprediksikan apakah ayahnya akan pulang dalam kondisi utuh, ataukah pulang hanya bawa nama. Umumnya, saking seringnya pulang pergi dari dan ke Timor Timur, anak-anak dan keluarga kadangkala sudah mengikhlaskan kalaupun ayahnya sudah tak kembali, yang tersisa hanya ritual doa agar ayah masing-masing dilindungi oleh Tuhan yang Maha Esa. Makanya mungkin banyak dari anak-anak yang orang tuanya ditugaskan di sana saat itu, tak begitu rela ketika langkah-langkah politis dan dan diduga sektarial yang dijalankan oleh Presiden B.J. Habibie, menyebabkan Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.Serasa perjuangan yang telah dilakukan dengan mengorbankan jiwa, raga dan kehidupan keluarga, dibayar dengan langkah politis yang tak nasionalis.

Semasa papah bertugas di Timtim, perjuangan ibu sangat berat dan berperan besar dalam menghidupi ke-enam anaknya. Walaupun Ibu bekerja juga, sebagai seorang perawat di rumah sakit angkatan darat dekat rumah, namun gaji yang diterima belum tentu cukup menghidupi dan membelikan sesuatu yg lebih, syukur-syukur untuk makan dan kebutuhan dapur sebulan rasanya cukup di pas-paskan. Bahkan untuk membeli sebuah TV kecilpun harus dibantu oleh “Gungkak” di Kesiman. Gungkak adalah bahasa Bali untuk kakek. Gungkak Puger, bukanlah Kakek langsung, beliau adalah saudara nenek dari Kesiman, sebuah desa di sebelah timur Denpasar. Demikian juga, rasa bahagia dan gembira membungah di hati kita, ketika saudara ibu dari kedaton berbondong-bondong mengirimkan bubur sumsum setiap hari “tumpek uduh” tiba. Tapi dibalik itu semua kami tetap bersyukur dan selalu bahagia. Kami selalu kompak. Hingga berantem dengan teman yang lain pun kita kompak. Kita selalu bersyukur terhadap apa yang kita punya, walapun banyak harapan yang muncul saat itu namun selebihnya kadang hanya mimpi semata.

Salah satu keunggulan yang bisa dijadikan “uang” pada saat itu adalah dengan membantu rekan-rekan sekelas di SD Kartika Chandra Kirana 2 dalam mengerjakan PR. Walaupun rasanya tak baik, namun pada saat itu terkesan lumrah. Lumrah karena dua alasan, yaitu bahwa untuk pintar memerlukan biaya dan adanya kebutuhan karena hukum pasar yang sifatnya sederhana, yaitu ada kemampuan dan ada kebutuhan. Dirasa lumayan saat itu karena sehari bisa menangguk keuntungan hingga Rp. 100,- ditengah tengah bekal sekolah dari orang tua yang Rp 10,- jumlahnya. Artinya menjual kemampuan 10 kali lipat dari bekal cuma-cuma yang diberikan orang tua. Tapi lambat laun akhirnya ketahuan setelah guru mencermati perkembangan teman yang selalu membayar ketika harus mengumpulkan PR esok harinya. Hukumannya yang harusn saya pikul adalah dengan memegang kuping kiri dengan tangan kanan, disertai angkat kaki satu berdiri di depan kelas selama pelajaran berlangsung.  Ini konsekuensi yang secara sadar saya harus pikul. Gaya hukuman kolonial yang masih diterapkan pada saat itu. Tapi guru yang menghukum punya cara lain untuk menyalurkan kemampuan berhitung. Inilah kehebatan guru saat itu.  Kebetulan guru yang bersangkutan menjadi pemasok jajanan es di kantin sekolah, yang memasok sehari-harinya hingga 600 hingga 700 bungkus. Ia selalu membawa es tersebut dalam beberapa tas plastik besar yang dibonceng Vespa oleh suaminya setiap pagi ke sekolah. Ibu Karundeng namanya, seorang Manado, yang menjadi guru di sekolah dan juga menjadi tetangga belakang rumah. Terjadilah kontrak yang bermanfaat saat itu, yaitu saya harus menghentikan menerima upah sebagai akibat mengerjakan PR teman, sebagai imbalannya adalah setiap pagi sebelum pelajaran dimulai harus menghitung jumlah es yang disupply dan memasukkan kedalam 4 atau 5 termos yang sudah disediakan saat itu. Hadiahnya adalah Rp. 25,- per hari ditambah gratis 2 bungkus es pada saat istirahat sekolah. Walaupun penghasilan menurun, namun yang penting sedikit legal dimata guru.  He… he.. Syukur-syukur pada saat itu belum ada UU ketenagakerjaan yang mengatur ketentuan mempekerjakan anak di bawah umur. Jadi apa yang dilakukan saat itu masih sah-sah saja.

Keinginan dan harapan terhadap kehidupan yang lebih baik, dialami pada saat saya menginjak SMP. Mengikuti tes masuk no urut 041, disertai perut mules karena stress dan masuk angin, akhirnya Tuhan memberikan berkah itu, yaitu saya diterimadi kelas B SMP Negeri 1 Denpasar, SMP terfavorit tidak hanya di Kota Denpasar, namun juga seantero Bali dari dulu hingga saat ini. SMPN 1, atau “Spenza” orang biasa menyebutnya, terkenal dengan budaya belajar dan berkompetisi, karena di sekolah ini lah saya menemukan partner yang tepat untuk mengeksplorasi pengetahuan.Mengapa ada kebanggaan, karena dari beratus-ratus anak kolong yang seangkatan, mungkin hanya sedikit orang termasuk saya yang lulus melalui tahapan seleksi masuk sekolah ini. Walaupun tak ada hadiah dari orang tua untuk keberhasilan ini, namun saya tetap berterima kasih, karena kemungkinan atas doa beliau saya bisa melampaui tahapan seleksi tersebut.

Seperti umumnya sekolah favorit, tentunya kebanyakan isinya adalah siswa yang memiliki kemampuan ekonomi yang cukup mapan. Banyak anak “pejabat” menjadi siswa di sekolah ini, secara fisik mereka cukup menarik, untungnya mereka pintar-pintar sehingga tidak terlalu kontradiktif dengan kemapanannya. Kemapanan tersebut yang menyebabkan mereka mudah memperoleh akses pengetahuan baik buku maupun pengetahuan lainnya. Tentunya sangat berbeda dengan kondisi saya, anak kolong yang berusaha “berteman” dengan anak pejabat tersebut. Berteman adalah konsep yang tepat untuk menggambarkan usaha-usaha untuk mendapatkan akses pengetahuan dan pengaruh pada saat itu. Sekolah SMP dijalani dengan normal, walaupun selama lebih tiga tahun lamanya saya berjalan kaki menuju dan pulang sekolah dengan jarak kurang lebih 7 Km PP, dalam kondisi cuaca apapun, melewati lorong-lorong rumah penduduk yang kadangkala masih banyak “ranjau” berupa kotoran babi berserakan di Gang-gang sempit itu.Kita harus benar berhati-hati supaya terkena ‘ranjau’ tersebut. Bisa dibayangkan bila itu terjadi.

Semua keterbatasan dinikmati dengan kebahagiaan. Bahagia karena saya adalah satu-satunya seangkatan di SD Kartika Udayana 2 yang diterima di sekolah ini. Bahagia karena teman-teman tak satupun yang merendahkan pihak lain oleh alasan kemampuan ekonomi. Di sekolah ini saya memiliki salah satu teman akrab, Agus Tatang namanya. Tatang adalah nama ayahnya, seorang militer berpangkat Kolonel di Kodam Udayana. Namun persahabatan ini harus terputus, karena Agus Tatang harus di boyong oleh ibunya ke Jawa, oleh karena meninggalnya sang ayah pada saat itu. Selama berteman dengan nya, saya merasa banyak pembelajaran yang didapat. Kadangkala kegembiraan bisa terhenti tiba-tiba dan menjadi sebuah kesedihan, dan semuanya karena Kemahakuasaan Tuhan. Tuhanlah yang mengatur itu semua, dan tak ada yang tahu kapan dan dalam bentuk apa Tuhan mewujudkan KemahakuasaanNya.

Di SMP ini saya mulai memahami kemajemukan dalam pengertian kesejahteraan. Belajar untuk bersyukur, karena ditengah keterbatasan masih ada rekan lain yang lebih terbatas. Ada rekan yang harus menjadi loper Koran dengan menggenjot sepeda dari rumah hingga sekolah. Tentunya bisa diperkirakan, bahwa bajunya selalu lusuh oleh keringat kerja kerasnya. Ada juga beberapa teman yang memiliki kemampuan ekonomi yang sangat mapan, dan bahkan tak berkekurangan. Namun semuanya bersahaja, karena tak pernah membeda-bedakan teman atas dasar kemampuan ekonomi. Syukurlah 30 tahun kemudian rekan-rekan sekelas menjadi orang yang berhasil dalam karirnya. Ada yang jadi Dokter, pilot, pengusaha, dan ada yang jadi karyawan dengan karir yang mapan.

Selain agus tatang, saya juga memiliki sekelompok teman belajar, hampir semuanya pintar-pintar, kecuali saya tentunya. Ada Yumiq, Thermiani, Rini, Ridwan, Rudy, Theresia, dan Dayu Gandarini. Secara periodik kita belajar bersama, saling berdiskusi mengerjakan pekerjaan rumah dan juga persiapan untuk ebtanas dengan system NEM yang saat itu baru dicanangkan tahun kedua. Tentunya ada harapan mendapatkan NEM yang baik. Karena rata-rata ingin kembali masuk ke sekolah yang sama, sehingga pertemanan dapat dilanjutkan. Terbukti hampir sebagian besar teman-teman masuk di sekolah yang sama.

Tuhan memang Maha Penyayang, sejalan perjalanan waktu, walaupun dengan nilai pas-pas an saya akhirnya lulus dari SMP terfavorit saat itu. Tapi khawatir juga, apakah akan diterima di SMA Negeri 1 Denpasar. SMA yang sama bagusnya dengan SMP dimana saya mengenyam pendidikan. SMA yang lulusannya terkenal pintar-pintar dan selalu mendapat prioritas PMDK untuk masuk universitas-universitas favorit di Jawa. Saya ingin sekolah di Jawa, dengan belajar di sekolah ini saya berharap saya bisa meniru kakak-kakak kelas pada saat itu. Pada saat lulus SMP, terpikir  hanya pada 3 hal yaitu; berusahalah semaksimal mungkin, berdoalah sebanyak-banyaknya, nah yang ketiga adalah pasrah. Ketiga pedoman inilah yang saya pakai hingga saat ini, supaya tidak terkesan “ngoyo” pada saat bekerja. Tuhan juga ternyata tidak tidur, dia memberikan kasih sayangNya, dengan kasih sayangNya, Dia memberikan tiket untuk masuk ke sekolah favorit tersebut. Tiket tentunya tidak boleh disia-siakan harus diperjuangkan. Kembali akhirnya keinginan menjalani pendidikan dalam lingkungan yang mapan dan terpelajar terjalani. Semua Rahmat Tuhan seperti ibaratnya sebuah tantangan.

Saya banyak belajar tentang arti berjuang dan berteman di sekolah ini. Oleh karena ekstremnya perbedaan ekonomi diantara kita, kadangkala akhirnya menyebabkan dekat dengan rekan yang memiliki nasib yang sama. Walaupun tidak pernah membatasi pergaulan, namun saya tetap memiliki seorang teman yang sangat akrab. Teman terdekat tersebut duduk satu meja, meja nomer tiga dari belakang pojok kiri. Orangnya sangat sederhana, dan lahir dari keluarga yang tidak mapan secara ekonomi. Namanya Made Putra. Kami sering berbagi terhadap alat tulis dan gambar yang mahal harganya. Terpikir Tuhan memberikan teman karib yg sama, tapi bedanya dia lebih pintar dari saya. Saya bersyukur, walapun saya berjalan kaki kurang lebih 14 Km PP rumah sekolah, ternyata ada yang lebih berat lagi, yaitu menggunakan sepeda ontel dengan jarak tempuh 15 Km sekali jalan atau 30 Km pergi pulang . Mengayuh sepeda dari Desa Dalung di ujung barat kota Denpasar ke lokasi sekolah di Kereneng tepatnya Jalan Kamboja di ujung timur kota Denpasar.

Namun walaupun teman akrab ada perbedaan sedikit diantara kami, yaitu dia lebih menyukai pelajaran biologi sedangkan saya lebih menyukai fisika. Perbedaan inilah yang menyebabkan saya terpisah pada tahun kedua. Dia mendapatkan jurusan biologi sedangkan saya jurusan fisika. Tapi walaupun jurusan berbeda persahabatan kami tetap berlangsung baik saat itu. Cuma sayang,sejak saya memutuskan kuliah ke Jawa, hingga saat ini saya tak pernah bertemu dengannya.

Banyak hal yang sangat berkesan ketika saya menjalani masa pendidikan di SMA, dari berlusuh-lusuh kehujanan ketika tiba di sekolah dan mengangin-anginkan pakaian agar segera kering, hingga dihukum satu kelas gara-gara seorang teman menyalakan mercon dengan dupa, dengan harapan guru fisika yang tak begitu disukai saat itu terkena imbasnya.Ternyata yang terkena adalah guru matematika yang jantungan dan lemas seketika mendengar ledakan mercon tersebut. Syukurlah pak guru tersebut segera sembuh.  Atas nama solidaritas yang salah, akhirnya satu kelas dihukum berjemur bersama, ibarat tanning kulit agar lebih hitam. Tak satupun yang mengeluh terhadap hukuman walaupun tak melakukan perbuatan tersebut. Inilah wujud kekompakan kelas kami saat itu, yang belum tentu benar baik tindakan maupun kesepahaman. Kelas yang terdiri dari anak-anak nakal namun hampir sebagian besar pintar-pintar, karena hampir 100 persen dari siswa kelas ini berhasil lulus dengan nilai memuaskan dan melanjutkan pendidikan di universitas negeri di Jawa maupun Bali.

Berdasarkan hasil ngobrol-ngobrol, hampir sebagian besar dari siswa kelas ini tak menginginkan untuk melanjutkan perguruan tinggi di Bali. Tidak mudah memastikan argumentasi yang tepat. Mungkin karena mendengar banyak alumni yang sekolah di Jawa, justru menjadi orang yang sukses. Tapi sejatinya memang di Bali saat itu bukan tempat yang tepat untuk belajar, termasuk dalam hal mengasah kemandirian. Ada beberapa nama yang masih saya ingat hingga saat ini, seperti Yumik, arief, KotijenU atau Uuk, Gus Putru, Endang Sri Wahyuni, Boneng, Diksa, Ruditha, Gung Mas, Andi, Nina, Stiti, Agus Yudiana, Anom, Pujianiki, Aulia Rafiudin, Komang Adnyana. Tapi hanya beberapa saja yang saya tahu sekarang berada dimana, itupun gara-gara dibantu oleh media social yang namanya fesbuk.

Ada Empat kampus favorit yang diidam-idamkan yaitu ITB, ITS, IPB dan UGM. Tak banyak yang memilih UI, Undip, Unair, UniBraw ataupun Unpad. Tanpa mengecilkan nama besar kampus tersebut, kalaupun itu pilihan biasanya hanya sebagai cadangan. Sejujurnya mengapa tidak menjadi pilihan, lebih karena kampus yang lain tidak seterkenal ketiga kampus tersebut dikalangan siswa  di Bali saat itu, dan tak banyak ada alumni SMAN 1 (smansa) disana.

Pada saat Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dikenal istilah IPC, saya sendiri lupa kepanjangannya, yaitu formulir pilihan jurusan yang memungkinkan siswa memilih jurusan ilmu sosial sebagai pilihan alternatif. IPC ini hanya diberlakukan bagi siswa yang pada saat SMA mengambil jurusan biologi dan fisika. Tentunya cenderung diskriminatif bagi siswa yang berasal dari jurusan IPS, karena tak memiliki peluang yang sama. Saya pun menggunakan fasilitas yang sama. Saya hanya tertarik untuk kuliah di Jurusan Tekhnik Industri saat itu, dan pilihan yang saya ambil adalah TI ITB sebagai pilihan pertama dan TI ITS sebagai pilihan kedua. Namun ketidakpedean membuat saya memilih satu jurusan alternatif sebagai pilihan ketiga.  Saya tak melakukan eksplorasi yang mendalam terhadap pilihan yang ketiga tersebut. Informasi yang saya dapatkan hanya sederhana, bahwa jurusan ini akan melahirkan calon-calon diplomat. Wah sebuah jurusan yang unik, mengingat banyak dari keluarga saya bekerja di Kementerian Luar Negeri RI. Bahkan ada yang sempat menjadi Menteri Luar Negeri pada masa kemerdekaan dahulu dan sekarang Almarhum dikenal sebagai salah satu dari empat pahlawan nasional asal Bali yang dibanggakan masyarakat Bali selain Gusti Ngurah Rai.Gusti  Jelantik, dan Mr. Pudja. Nama beliau adalah Dr. Mr. Ide Anak Agung Gde Agung. Spirit ini yang menguatkan saya mengambil jurusan tersebut, walaupun saya tak terlalu banyak tahu mengenai jurusan ini. Jurusan Hubungan Internasional lah yang menjadi tempat saya untuk menyelesaikan studi S1 saya saat itu. Ada kekagetan yang cukup mendasar saat itu, ternyata jurusan ini berada atau menjadi salah satu bagian dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Tak terbayang bagi saya yang selalu berkutat dengan angka-angka ternyata diterima di jurusan yang sama sekali dari awal hingga akhir  tidak ada pelajaran berhitungnya. Belajar ilmu politik, wah tak terbayang ternyata politik bisa dipelajari. Setahu saya tokoh politik nasional jarang lulusan sekolah politik atau politisi tak banyak lahir dari sekolah politik saat itu. Apakah ada yang salah dengan pendidikan kita? Ternyata sejarah membuktikan bahwa Tuhan selalu bekerja dengan tanganNya yang tak tampak dan melindungi saya dengan diamNya. Lambat laun saya mulai menyukai pelajaran yang dikembangkan di jurusan ini.

Merantau dan tak tanggung-tanggung seorang diri ke Bandung rasanya seperti membalikkan telapak tangan kehidupan. Banyak hal yang tadinya dilakukan dalam kondisi rame dan hiruk pikuk keluarga, sekarang harus dikelola sendiri. Pada awalnya pasti “home sick”, apalagi pada saat itu pertama kali merantau dan jauh dari orang tua, terutama ibu. Hanya tekad yang kuat saja yang cukup membantu bebas dari kondisi “home sick’ ini. Mungkin perasaan yang sama dirasakan oleh Ibu sendiri. Biasanya guyub berdelapan atau ber empat belas termasuk dengan pembantu dan keponakan, sekarang berkurang 1 orang. Dari yang tidurnya sekamar 3 atau 4 orang menjadi sendiri. Hikmah yang muncul adalah mulai belajar tentang privacy. Kalau dahulu masih pinjam baju dan celana karena ukuran sama dan masih bersaudara, setelah kost, harus mengelola sendiri.

Ada hal yang menarik pada awal memutuskan untuk berangkat ke bandung. Ketika pengumuman penerimaan kuliah dilakukan, saya telah mengetahui bahwa saya diterima di perguruan tinggi itu, namun saya tak pernah menginformasikannya ke orang tua. Kenapa? Karena takut akan kemampuan ekonomi saat itu. Kuliah adalah longterm Investation, apakah ada kesanggupan untuk membiayai, ini yang menjadi pertimbangan. Apakah cita-cita untuk kuliah di Bandung dapat terealisasikan? Sekali lagi Tuhan memberikan kasih sayangNya. Secara tak sengaja, sepupu datang ke rumah dan memberikan selamat atas kelulusan tersebut. Dan ucapan selamat ini sangat mengagetkan kedua orang tua saya. Dengan sedikit marah, mereka bertanya kenapa saya tak memberitahunya. Jawaban yang saya sampaikan atas pertanyaan tersebut adalah,“apakah papah dan ibu mampu untuk membiayai kuliah saya hingga selesai nantinya”. Saya yakin, kedua orang tua saya tak akan tenang setelah mendengar pertanyaan saya tersebut. Hal ini terbukti dari dialog mereka yang saya tak sengaja dengar hingga larut malam,mendiskusikan masalah ini berdua. Kenapa saya bisa mendengarnya? Karena pembatas ruang tidur kami hanya berbahan bedek (dinding anyaman bambu) saja. Keputusan ternyata telah diambil saat malam itu. Jam 2 pagi, ayah saya membangunkan saya, meminta saya segera mandi dengan air hangat, dan memutuskan mengantar saya ke Bandung dengan membeli ticket Go Show untuk keberangkatan jam 4 pagi. Yang dibawa tentunya hanyalah baju yang sempat dibawa. Dari sinilah dimulainya perjalanan hidup saya jauh dari orang tua. Seperti “manik sekecap” istilah Bali untuk menyatakan sesuatu yang tiba-tiba drastis berubah, dua puluh empat jam kemudian saya sudah berada di Bandung dan tidak kembali dalam waktu satu tahun lamanya.

 

Mengatasi Imsonia dan Social Shock

Saya sangat gembira ketika bisa menjalani kemandirian saya di Bandung. Banyak hal yang harus dipelajari secara instan. Belajar tentang bagaimana mengatasi ketidakpedean, bagaimana mengatur keuangan minimum untuk sebulan, belajar mengenal lingkungan dan pertemanan termasuk mencoba belajar bahasa Sunda, mencoba belajar mencari indekosan, mencoba mengatur kamar sendiri, mencari baju sendiri, mencicipi dan mencari tempat-tempat makanan yang murah, mengatur stock makanan di kamar, dan banyak hal yang remeh temeh lainnya. Semuanya hanya ditujukan agar segera menyelesaikan kuliah.

Ada yang unik kalau bicara pengaturan keuangan. Satu hal karena baru pertama kali mengatur sendiri masalah keuangan pribadi ini, maka  kita benar-benar harus pintar mengatur uang agar tidak tekor di akhir bulan, mengingat dana bulanan yang diterima tak terlalu besar. Sistem yang diterapkan dalam pengelolaan keuangan dengan membatasi pengambilan. Hingga selesai kuliah S1, saya tak punya tabungan dan tentunya tak punya buku tabungan. Buku tabungan adalah suatu yang langka bagi saya, tapi belum tentu bagi teman lain yang hidup berkecukupan. Saya memiliki buku tabungan pertama kali ketika bergabung dengan Astra Internasional yang mewajibkan karyawannya memiliki rekening Bank. Bank pertama yang mengeluarkan buku tabungan bagi saya adalah Bank Utama, atau sekarang lebih dikenal dengan nama Bank Permata.

Oleh karena kemampuan keluarga yang terbatas, akhirnya orang tua memutuskan sistem “pagu anggaran”. Sepertinya caranya canggih ibarat ngurus anggaran negara, tapi sebenarnya bahasa prokemnnya jangan lebih-lebih ambil uang setiap bulannya, uangnya terbatas. Mungkin tak banyak yang menggunakan fasilitas ini, saya juga tak tahu, tapi terbukti kalau mengambil di customer service (CS) Bank BNI ITB, hanya bertemu  paling banyak 2 orang. Ternyata kita senasib. Bentuk pagu anggarannya adalah melalui surat pengambilan rutin awal bulan. Diawal tahun kita terima surat dari BNI, isinya adalah bulan dan angka rupiah, dan setiap awal bulan kita hanya boleh mengambil rupiah sebesar yang ada dalam surat, tak lebih dan tak kurang. Celakanya bila tanggal 27 dan 28 oleh karena suatu hal stock uang habis, maka hukum pinjam simpan mulai otomatis berjalan. Saking seringnya habis di luar batas waktu yang ditentukan, membuat kami makin akrab dengan teman-teman yang mengalami nasib yang sama. Ada hal yang cukup menggelikan tentang hal ini. Suatu hari karena uang habis, dan sistem pinjam simpan mengalami deadlock, saya coba memberanikan diri untuk datang ke BNI dengan maksud bernegosiasi. Sudah sering bertemu dan berkenalan baik dengan customer services, yang kebetulan masih muda dan cantik. Datang dengan harapan apakah mungkin dicairkan sebelum tanggal 1. Berdasarkan ketentuan tentunya tak mungkin, dan CS juga tidak mengijinkan. Mungkin karena kasihan dan wajah memelas, akhirnya CS meminjamkan uang pribadinya kadang besarnya Rp. 5.000,- hingga maksimum Rp. 10.000,-dengan harapan tinggal potong saat tanggal 1 nanti. Wah ibarat malaikat yang memberikan air ditengah kehausan di gurun pasir yang gersang (lebay amat yaks), pinjaman langsung disambar. Pada saat ini rasa-rasanya disuruh apa saja mau, jadi pacar juga mau, tapi dia yang nggak mau, masak pacaran sama wong kere, yang selalu kekurangan duit. Yang mengejutkan adalah beberapa tahun kemudian, ketika saya menjalani pendidikan Magister di UI, saya bertemu secara tidak sengaja dengan mbak CS ini. Ternyata dia masih bekerja di BNI. Peristiwanya adalah ketika saya harus membayar uang SPP semesteran, ternyata yang memproses pembayaran adalah mbak CS tersebut. Rupanya dia masih ingat dengan saya, dan dengan santai ia berkata; “Wah sudah jadi orang sukses ya mas, sudah bisa bayar juta-jutaan”. Dengan tersenyum sambil bertegur sapa saya menjawab; “Itu berkat pinjaman lunak penuh senyum dan berkah dari Mbak, thanks ya Mbak”. Rasanya happy bisa menunjukkan rasa terima kasih saya. Mungkin jalan Tuhan mempertemukan saya beberapa tahun kemudian.

Rekor yang pernah dicapai untuk masalah keterbatasan uang adalah keberhasilan berjalan kaki mencapai tempat kuliah di Dago Atas dari tempat kos yang berada di Jalan Ciheulang Kawasan Tubagus Ismail. Lumayanlah disamping jalannya menanjak jaraknya juga mungkin 5 Km an. Kenapa cukup jauh, karena melewati  gang-gang sempit yang berkelok-kelok untuk menghindari berpapasan dengan teman kuliah, khawatir diajak naik angkot, dan tak punya alasan untuk menolak dan malu untuk berkata tak punya uang. Tentunya jalan kaki ini dilakukan pulang pergi. Rekor kedua, adalah secara tidak sengaja berpuasa 1 hari penuh, gara-gara sistem pinjam simpan sudah deadlock, dan harus merintih karena lambung melilit. Tapi dari pembelajaran peristiwa ini, ada unsur risk management yang harus dilakukan, khususnya bagaimana mengelola stock. Beberapa upaya dilakukan, disamping men-stock indomie untuk 10 hari terakhir tiap bulannya, juga dengan membeli pisang mengkal  satu atau dua sisir, yang diperkirakan akan matang 1 atau 2 hari. Dibelinya kira-kira tanggal 28an setiap bulannya. Kemudian pisang digantung dekat tempat belajar, dan ketika lapar tinggal comot saja satu persatu. Mulailah kita menghayati kehidupan ibarat  seekor Monyet. Walaupun kondisi sangat terbatas, ternyata saya masih menerimanya dengan bahagia. Mungkin juga pengaruh banyaknya temen-temen yang mengalami hal yang sama, dan mungkin lebih berat, sehingga seberat apapun dirasa sangat ringan.

Ada dua teman yang setia menemani saya menjalani study, seorang mahasiswa suku Sunda (Ade), dan seorang mahasiswi asal bangka (Prima). Kami dikenal sangat kompak, kemana-mana selalu bertiga. The three musketeers, orang biasa menyebutnya. Tidak bermaksud membatasi pergaulan, tapi ternyata memang chemistry persahabatan terlihat nyata dari pergaulan saya dengan kedua teman saya ini. Kami menjalani persahabatan dengan tulus dari awal hingga menyelesaikan pendidikan, walaupun rekan saya yang perempuan memutuskan menikah pada saat menjalani perkuliahan, akhirnya beberapa tahun kemudian dapat juga menyelesaikan pendidikannya. Persahabatan kami sangat kental, kami biasa berbagi dalam banyak hal, tidak hanya masalah makanan, tempat duduk perkuliahan, pinjam simpan keuangan, oleh-oleh dan kiriman dari daerah, perasaan, buku dan fotocopypun urunan, hingga belajar buku yang tebalpun pakai strategi berbagi. Hingga karena terlalu seringnya membeli buku dengan sistem berbagi, kita tidak tahu sebenernya aset siapa buku ini nantinya. Setelah membaca bagian dan porsi masing-masing yang telah disepakati sebelumnya, biasanya kita buat catatan-catatan kecil, dan kita sediakan waktu satu atau dua jam menjelang ujian untuk melakukan tukar info tentang isi bacaan (content sharing). Metode ini sangat membantu memudahkan memahami isi buku atau bahan ujian yang cukup tebal.

Disamping masalah pengaturan keuangan, saya mengalami kondisi kesehatan yang kurang baik pada awal-awal tahun pertama. Satu bulan awal saya terserang penyakit cacar. Untungnya saya mengenali gejala penyakit ini. Ketika baru terkena, saya langsung berobat ke Puskesmas. Uniknya adalah saya harus setia menunggu berjam-jam antrean panggilan dokter. Hal ini tidak akan terjadi bila saya mengalami sakit di Bali. Tak perlu antri, bahkan kadangkala mendapat prioritas, mengingat orang tua bekerja di bidang kesehatan, dan ibu perawat di Rumah Sakit Militer. Ternyata apapun bisa menjadi pembelajaran ketika kita memutuskan untuk mandiri. Ada penyesalan juga dan baru terasa bahwa ternyata antri itu menyebalkan, dan membayangkan bahwa apa yang saya lakukan sebelum-sebelumnya tanpa antri mungkin merugikan pihak-pihak lain yang sedang kesusahan. Sedikit-demi sedikit Tuhan menunjukkan jalan pembelajaran agar kita selalu menumbuhkan kepedulian.

Hal yang juga tak kalah menyebalkan adalah ketika saya mengalami imsomnia berkepanjangan, tanpa menyadari penyebabnya. Satu tahun penderitaan susah dihilangkan. Sudah dengan berbagai cara, dan hanya bisa tidur kisaran pukul 4 pagi. Tentunya hal ini berdampak buruk bagi kesehatan, mengingat pagi-pagi sudah harus berangkat mengikuti perkuliahan. Ujung-ujungnya adalah terganggunya sistem keseimbangan tubuh. Pernah sekali waktu hampir kolaps ketika perkuliahan berlangsung, untungnya kedua sahabat sempat menenangkan dan memberikan minuman. Berapa upaya dicoba, dari berolahraga semakin banyak hingga tidak memforsir untuk belajar, namun upaya ini belum berhasil sempurna. Kelelahan dan ketegangan, membuat saya hampir menyerah. Namun berkat dukungan teman, saya mencoba sedikit demi sedikit memasrahkan diri. Ternyata kepasrahan sangat membantu menghilangkan ketegangan. Mujizat mulai muncul ketika secara tidak sengaja saya membaca buku You can if you think you can, karangan Vincent Peale. Buku ini menggugah saya dan memberikan keyakinan ke saya bahwa saya pasti bisa melalui semua ini. Isi buku ini beserta contoh-contoh kasusnya memberi dorongan keyakinan pada saya bahwa imsonia dapat mudah disembuhkan. Langkah-langkah sugestif sangat membantu, dan saya kombinasikan dengan 5 hal lainnya, yaitu; pertama, saya tidak menghentikan olahraga, bahkan saya sengaja menambahkan dengan gerakan-gerakan yang ceria disertai musik, ditambah gerakan-gerakan kaki menjelang tidur. Kedua, saya selalu Trisandhya dan bermeditasi dengan melihat foto kakek saya, sebelum saya berdoa dan mengatur nafas serta melafalkan puja dan mantra. Ketiga; saya selalu menghentikan kegiatan belajar paling terlambat pukul 20.00 malam. Keempat; saya menjaga keteraturan pola makan dan selalu minim susu menjelang tidur. Kelima; pada saat siang saya selalu sharing tentang permasalahan pribadi saya ke kedua teman akrab saya tadi. Hasilnya sangat menakjubkan, saya berhasil memajukan jam tidur saya paling telat jam 21.00. Thanks Good, I can if I think I can.

Berkuliah di sebuah perguruan tinggi lokal, tentunya membutuhkan upaya-upaya yang mengarah pada pembelajaran budaya. Ada memang kekhawatiran potensi mendapatkan diskriminasi kesukuan. Faktanya Jumlah mahasiswa Bali dan beragama Hindu seangkatan di kampus Unpad hanya 3 orang diantara kurang lebih 2.500 siswa baru. Untuk mencari guru agama yang bersedia mengajar hanya 3 orang mahasiswa tentu tak mudah. Biasanya dosen disediakan oleh Pembimas Hindu Jawa Barat dan umumnya berasal dari institusi militer. Bayangkan satu kelas pelajaran agama hanya 3 orang, mungkin ngerumpi lebih seru. Namun tekad untuk belajar agama sangat tinggi, dan keterbatasan tidaklah menjadi penghalang. Kami menjalani proses pembelajaran dalam kondisi menyenangkan. Lucunya mata kuliah agama cenderung semuanya mendapatkan nilai A, karena yg diajar cuma tiga orang, sehingga lumayan lah menambah nilai IPK.  

Jurusan Hubungan Internasional memiliki demografi siswa yang cukup berimbang antara siswa bersuku sunda dengan mahasiswa bersuku lainnya, bahkan dapat dikatakan bahwa penggunaan bahasa Indonesia dalam pergaulan lebih umum dipergunakan dibanding jurusan-jurusan lainnya yang dominan menggunakan bahasa Sunda dalam pergaulannya.  Tentunya persahabatan tak harus dibatasi oleh masalah kesukuan. Kita harus mencari cara agar kita bisa berteman dengan sebanyak-banyaknya orang. Untungnya saya memiliki teman karib yang berasal dari suku Sunda dan suku Bangka. Dari dialah saya belajar tentang kearifan sosial masyarakat Bangka dan Sunda. Ternyata Bali dan Sunda tak jauh berbeda dalam seni dan budaya.

Dari tidak pede, menjadi pimpinan organisasi kemahasiswaan.

Kesan yang muncul dari banyak orang  bahwa seakan-akan mahasiswa yang berkuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik adalah  orang-orang yang suka berorganisasi, padahal belum tentu. Yang terjadi banyak yang baru belajar berorganisasi ketika gabung di Jurusan ini. Walau sejak SMA saya sudah suka berorganisasi, namun melihat keagresifan rekan-rekan yang berasal dari daerah lain, kesukaan saya terasa kalah jauh dibanding rekan-rekan saya. Mereka jelas memiliki keberanian untuk tampil, untuk menyampaikan ide, walaupun kalau saya cermati kadangkala kebanyakan idenya ngawur dan kurang didukung argumentasi yang kuat. Kuncinya berani dulu, isi kadangkala belakangan. Kalau ditelusuri konyol juga, namun sebagai sebuah usaha oke sajalah. Contoh konkretnya adalah saat pemilihan ketua angkatan. Satu-satunya yang abstain adalah saya dari kurang lebih 400 siswa. Kenapa saya abstain, karena tak satupun kandidat yang saya ketahui secara detil kemampuannya. Kenapa tidak tahu, wong ketemu baru tiga hari. Namun di sisi lain 400 an minus 1 orang memilih, how come, tapi yang namanya demokrasi ya mau ndak mau akhirnya terpilih ketua angkatan tersebut. Dari peristiwa ini munculah pembelajaran bahwa kadangkala keberanian alias pede juga dibutuhkan disamping kemampuan yang dimiliki.

Untuk memimpin organisasi dalam tingkat Universitas tidaklah mudah, walaupun ada kesan demokratis dan egaliter  siapapun bisa menjadi pemimpin, namun kenyataannya ada  undercover treatment yang mengharuskan pemimpin berasal dari agama tertentu. Walaupun hal ini tidak berlaku dalam tingkat fakultas dan unit-unit kegiatan. Banyak para pemimpin yang berasal dari agama yang berbeda memilih duduk dalam kepengurusan tingkat fakultas atau unit kegiatan dibanding dalam level Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi, karena lebih toleran. Menjadi pimpinan unit kegiatan sangat membantu dalam pengembangan kepribadian. Karena banyak latihan yang dilakukan dengan berinteraksi dengan banyak orang dan banyak karakter yang berbeda.

Kadangkala pilihan organisasi juga sangat menentukan. Apakah kita akan memilih organisasi yang bersifat keagamaan ataukah unit-unit organisasi yang umum. Ada kesan bahwa orang yang terlibat dalam organisasi keagamaan bersifat fanatik atau berpandangan sempit. Namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Mungkin itu akan terjadi pada organisasi keagamaan dengan jumlah pengikut yang besar. Untuk organisasi keagamaan Hindu, hal ini sangat jauh dari persepsi tadi. Organisasi lebih banyak berorientasi bagaimana mencarikan guru agama bagi mahasiswa baru, mencarikan tempat tinggal bagi rekan-rekan mahasiswa yang pada satu kurun kesusahan untuk mencari tempat tinggal, kegiatan kerjabakti untuk kebersihan Pura, ataupun menggerakkan dan memotivasi persembahyangan bersama di Pura-Pura yang ada. Untuk bargaining position dengan agama lain tentunya sangat tak mungkin. Oleh karenanya banyak yang tak berkenan untuk dipilih menjadi ketua. Hal ini terjadi juga pada saya. Oleh karena ketidaksanggupan senior untuk ditunjuk menjadi ketua, akhirnya air cucuran jatuh ke junior yang terdekat. Saya mengiyakan dengan berbagai prinsip, yaitu : prinsip organisasi keagamaan harus berspirit toleransi atas perbedaan dan kemajemukan, organisasi keagamaan harus mencerdaskan anggotanya, organisasi keagamaan harus melahirkan pemikiran yang besar bagi bangun kebangsaan dan organisasi keagamaan harusnya mengarahkan anggotanya untuk menjunjung nilai kemanusiaan melebihi fanatisme keagamaan.

Menjadi pemimpin organisasi keagamaan bagi anak-anak muda tentunya tak mudah. Ternyata kadangkala yang merasa seagamapun belum tentu cocok. Untuk berdiri ditengah-tengahpun perlu energi yang luar biasa, ibarat makan tiga piringpun tak terasa cukup untuk mengembalikan energi yang terbuang untuk menjadi juru damai bagi mereka. Banyak peristiwa yang menjadi fakta,bahwa untuk menegakkan kebenaran harus dengan tindakan-tindakan yang tegas. Sebuah meeting yang tak konstruktif dilaksanakan di sebuah Pura di Cimahi yang dihadiri oleh Parisadha Propinsi, tokoh-tokoh umat dan dua organisasi pemuda yang selalu berseberangan dalam ide dan gagasan, PHI dan Peradah. Padahal sejatinya tak banyak ide dan gagasan yang dilahirkan oleh kedua organisasi ini. Topiknya menyangkut pendirian Patung Garuda Wisnu Kencana, oleh pematung Nyoman Nuarta. Setelah sejam lamanya gontok-gontokan, dimintalah pendapat saya oleh Ketua Parisadha Propinsi Jawa Barat pada saat itu.Maklum saya memiliki basis dukungan mahasiswa yang sangat kuat saat itu.Dengan rasa hormat saya katakan bahwa diskusi ini tak konstruktif, pemaksaan ide dan gagasan, banyak “udang dibalik rempelo” karena tak didasarkan pada ketulusan, karena tak akan menghasilkan solusi yang konstruktif, untuk apa kami berlama-lama mendengarkannya. Akhirnya saat itu saya mohon diri, meninggalkan sebuah meeting yang katanya tujuannya untuk menyelamatkan Bali. Tindakan saya diikuti oleh sejumlah anak muda Hindu yang memiliki idealisme dan ketulusan, dan akhirnya lima menit kemudian ketua parisadha justru ikut meninggalkan tempat , dan membuntuti saya dan menawarkan saya untuk ikut pulang ke Bandung bersamanya. Ujung-ujungnya pulang gratis, tak perlu mengeluarkan uang untuk biaya angkot ke Bandung.

Fakta lain yaitu saat investor Bakrie Nirwana Resort akan mendirikan sebuah resort di dekat Pura Tanah Lot, Tabanan. Upaya ini mendapatkan tentangan di kalangan Hindu yang kebanyakan seolah-olah fanatik, tapi sebenarnya dangkal esensi kefanatikannya. Dibentuklah tim kecil di Bandung, dimana ditunjuklah seorang mahasiswa magister Hukum untuk menjadi ketua, sedangkan saya ditunjuk sebagai sekretarisnya. Munculah perdebatan yang seru, dan penuh berapi-api, dan bahkan ada seorang pemuda yang lama sekali lulus kuliah hukumnya di sebuah kampus swasta di Bandung, berteriak lantang, akan bersedia bersatya mati, bila BNR ini berdiri. Tapi lucunya sampai 20 tahun sejak BNR berdiri, orang ini tetap hidup, dan bahkan terpilih sebagai seorang anggota dewan Tk. 1, dari partai yang berjargon demokrasi dan nasionalis. Kog ada orang yang milih. Ternyata pemilih kebanyakan buta karena tak tahu akan integritas yang bersangkutan. Itulah politik sejatinya. Ternyata isu BNR ini lebih pada isu ekonomi kepariwisataan. Dimana ada kekhawatiran wisatawan akan bergeser ke Barat, bukan ke Selatan. Hal ini tentunya membuat gerah para pelaku pariwisata di selatan, ujung-ujungnya kembali ke isu dangkal yaitu fanatisme keagamaan dengan memilintir pengertian batas kesucian pura, sebagai isu sentral yang sedang hot-hotnya terjadi pada saat itu.

Fakta lainnya adalah, tak satupun dari generasi muda Hindu saat ini yang tahu siapa sebenarnya pendiri dan pengkonsep KMHDI. Bahkan termasuk para pengurusnya saat ini. Hal ini disebabkan karena si pengkonsep lebih ingin menjadi “ the man behind the gun”. Yang muncul justru nama-nama yang berteriak-teriak tanpa konsep yang jelas. Sebenarnya, Spirit yang diharapkan muncul dari berdirinya KMHDI bukanlah murni corong perjuangan terhadap Hindu agar tetap eksis sebagai sesuatu yang sifatnya institusional. Tapi lebih kearah ajang berkumpulnya para intelektual muda Hindu, agar bisa melahirkan pemikiran-pemikiran kebangsaan dari perspektif agama Hindu. Menjadi para pemikir tentang nilai-nilai kemanusiaan, kebhinekaan, nilai-nilai sosial, pemikiran-pemikiran politik kebangsaan yang menjaga keutuhan dan tegaknya NKRI. Tapi faktanya tak banyak anggota dan pengurus KMHDI dari sejak berdiri hingga sekarang menjadi pemikir bagi kemajuan bangsa. Yang terjadi adalah KMHDI  semakin terinstitusionalisasi dalam wujud kelembagaan yang eksklusif.

Selain kegiatan dalam organisasi keagamaan, kegiatan lainnya adalah tentunya banyak berkaitan dengan olahraga. Olahraga yang sering dilakukan adalah lari sore di lapangan Gasibu Bandung, bermain volley dengan teman seangkatan, dan juga main bola. Oleh karena kiper utama sakit, dan ditunjuk sebagai kiper pengganti, lambat laun sepakbola menjadi sesuatu yang favorit. Olahraga yang sangat bergantung pada cuaca dan musuh pawang hujan, karena berharap main ketika gelagat-gelagat mendung dan cuaca akan segera turun hujan. Dengan keterbatasan prasarana yang ada, hampir setiap minggu, HI89 melakukan latih tanding baik dengan jurusan yang berbeda maupun dengan kampus2 lain. Walaupun banyakan kalahnya, namun kita selalu gembira menjalankannya.

Lika-liku perkuliahan: sepatu satu satunya kecurian menjelang ujian.

Kuliah bagi saya sangat mengasikkan. Saya termasuk siswa yang tidak suka bolos. Hal ini diakibatkan oleh pemikiran sederhana. Selalu terbayang begitu susahnya orang tua saya memutuskan untuk akhirnya mengirim saya berkuliah di Bandung. Dan spiritnya adalah semakin cepat lulus, semakin sedikit biaya dikeluarkan. Tidak bisa dipungkiri bahwa penambahan budget tahunan selalu harus disertai oleh proposal nilai IPK diatas 3, disertai oleh copy bukti nilai dari dosen. Kalau tidak mungkin dana tak akan muncul dengan segera. Dapat dibayangkan kalau dana tak turun.  Selama ini turunpun sudah pas-pasan alokasinya.

Saya bersyukur bahwa keterbatasan dana tak menyurutkan saya kuliah. Dan secara keseluruhan sebenarnya saya sudah bisa menyelesaikan SKS pada semeter ke tujuh. Namun keaktifan saya di organisasi dan kegiatan kemahasiswaan serta senangnya saya nimbrung dalam kegiatan kesenian menyebabkan cukup lamanya saya menulis karya akhir saya. Bahkan komputer yang dibeli oleh orang tua saya pada tahun ke empat, justru telah melahirkan wisudawan lebih cepat dari pemilik komputer itu sendiri. Memang bukan sebuah contoh yang baik. Setelah mencoba asik-asiknya menjadi pedagang lukisan keliling, akhirnya orang tua mulai memberikan sedikit ultimatum, apakah mau tetap berdagang atau menyelesaikan kuliah. Kalau berdagang berarti kiriman dengan terpaksa dihentikan. Secara halus orang tua mengingatkan bahwa tujuan dasar adalah kuliah dan menyelesaikan kuliah secepat mungkin. Sehingga segala sesuatunya fokus. Akhirnya dengan berat hati usaha dagang yang dirintis dengan temen-temen terpaksa harus dihentikan. Tapi seperti halnya orang jawa yang selalu untung dan selamet, demikian juga dengan usaha ini. Pada saat dibubarkan usaha ini mengalami sedikit keuntungan. Nilai yang bisa dipetik adalah pentingnya untuk fokus pada satu tujuan.

Banyak cerita unik pada saat kuliah ini, dari cerita bak sinetron hingga hal-hal kecil sederhana yang tak mungkin dilupakan. Cerita bak sinetron terjadi ketika saya ditunjuk menjadi panitia ospek mahasiswa baru baik tingkat fakultas maupun jurusan. Seperti layaknya seorang senior pada saat itu, ada kebiasaan di jurusan HI bahwa penerimaan mahasiswa/i selalu dilakukan pengenalan tambahan berupa ngobrol-ngobrol antara senior dengan mahasiswa baru yang sedang melakukan pendaftaran ulang. Pada momen ini biasanya pada senior akan memilih gender yang berlawanan yang tentunya memiliki ciri-ciri fisik yang lumayan. Kuncinya adalah cepat-cepatan menguasai CV dari mahasiswa baru ini. Ngobrol-ngobrol dengan mahasiswi cantik tentunya selalu menjadi harapan siswa pria saat itu. Hingga suatu ketika munculah bidadari itu dengan senyumnya. Dengan belagak senior krocoan, akhirnya ngobrol2 itu terjadi. Ada sedikit bangga, karena yg diajak ngoborol memang sangat cantik. Sehingga membuat iri rekan-rekan yang lain. Memang strategi sangat penting dalam urusan-urusan seperti ini. Si bidadari akhirnya menjadi adik yang sangat manis saat itu. Walaupun bukan berstatus pacar, rasanya hubungannya sangat dekat. Si cantik ini, sekarang menjadi seorang penulis buku anak dan keluarga yang cukup terkenal di Jakarta. Sebuah talenta yang mengagumkan.

Keinginan untuk memiliki orang dekat saat itu ada, namun budaya bali yang “metilesan”, kadangkala membuat hal itu tak terwujud. Rupanya kedekatan saya dengan beberapa rekan wanita, walaupun bukan sebagai pacar, membuat ketidaknyamanan. Ada seorang adik kelas baru, yang pada saat ospek mahasiswa lebih sering tidak hadir, kalaupun hadir, selalu ada saja luka fisik yang terlihat. Beberapa teman dari si adik ini mengatakan bahwa ia disiksa oleh seorang perempuan senior dari fakultas yang lain, oleh karena masalah sepele yaitu kedekatan yang bersangkutan dengan saya. How come, seperti orang londo sering berseru. Wong saya saat itu bukanlah arjuna, hanya seorang “malen” yang berkulit hitam dan sering kedodoran mengatur keuangan. Rasa penasaran terhadap orang yang mem”bullies” adik ini tentunya ada. Setelah mengeksplorasi rekan-rekan dari si adik ini, maka keluarlah sebuah foto yang sangat mengejutkan. Ternyata foto yang di bawa adalah foto seorang mahasiswi cantik, walaupun sangat mengerikan kejiwaannya, mahasiswi sebuah fakultas yg terkenal dengan studi klinisnya. Dan yang tak kalah mengejutkan adalah, memang mahasiswi cantik ini sering satu angkot dari simpang dago menuju dago. Walaupun tak pernah berkenalan, wajahnya sangat familiar. Tahu cantik gini, mengapa harus menyiksa orang, tinggal bilang aja... he..he. Akhirnya si adik ini, tidak melanjutkan kuliahnya. Si adik ini yang ternyata seorang penulis cerita, akhirnya menuliskan kisahnya dalam sebuah cerita bersambung di sebuah koran paling terkenal di Bandung saat itu. Dengan nama orang yang sama.

Dinamika perkuliahan dan pertemanan memang mengasikkan. Hingga munculnya dua mazhab di jurusan HI juga menjadi catatan. Ada mazhab praktis, ada mazhab metodologis. Ujung-ujungnya perebutan pengaruh di level jurusan baik antar dosen maupun mahasiswa. Sebagai penganut mazhab tengah, yaitu sebuah mazhab yang senang lesehan dan hura hura, kadangkala bukan posisi yang enak. Selalu menjadi bagian dari perebutan pengaruh. Dan kadangkala berdampak pada penilaian perkuliahan. Mazhab metodologis diidentikkan dengan mahasiswa yang suka ngulik-ngulik hal-hal yang scientifik, sedangkan mazhab praktis cenderung dianggap berfikiran pragmatis. Terlepas dari kondisi itu, ternyata mahasiswa ternyata lebih pintar dalam memanfaatkan kondisi yang ada, dalam kondisi terang seperti kelihatan beda pemikiran dan mazhab, tapi dalam kondisi gelap, semuanya akrab. Yang eker-ekeran justru dalam level pengajar yg cendrung ingin mendapatkan kedudukan struktural dalam tingkat jurusan.

Kenangan pahit juga pernah terjadi. Kenapa hal ini menjadi sebuah kenangan yang pahit tapi juga menggelikan. Karena sejak saat itu mulai muncul pemikiran punya “cadangan” tentu lebih baik daripada  tidak. Kejadiannya adalah pada saat kejuaraan dunia sepakbola. Pada saat itu berbarengan dengan masa-masa ujian semesteran. Maksud hati menonton piala dunia saat itu, ternyata batal oleh karena salah melihat jadwal. Otomatis rencana begadang gagal total, walaupun saat itu sudah pukul satu pagi. Yang terjadi adalah badan secara otomatis melemaskan dirinya, sehingga pukul duapagi baru bisa tertidur-tidur ayam. Yang terjadi adalah si maling dengan entengnya meraup semua sepatu di kos-kosan termasuk satu-satunya sepatu saya. Efeknya adalah tidak hanya pusing mikirin soal apa yang harus dijawab pada saat ujian, tetapi sepatu apa yang akan dipakai saat itu, karena tak punya sepatu lainnya sebagai cadangan.Tak bersepatu tentu tak bisa ujian.Untungnya teman kos-kosan memberikan pinjaman sepatu yang tentunya ukurannya jauh lebih kecil dari ukuran kaki. Akhirnya ke kampus menggunakan sandal dan ketika mau ujian baru digunakan sepatu pinjaman, tentunya ujian disertai dengan rasa cenut-cenut di kaki.

 

Melaksanakan Kuliah Kerja Nyata di Desa Cipeujeh Pacet Majalaya

Salah satu hal yang ditunggu-tunggu mahasiswa dan merupakan wujud kepedulian sosialnya adalah kegiatan KKN. KKN  bukanlah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang menghebohkan di tahun 1998, tetapi Kuliah Kerja Nyata. KKN dilakukan dengan menempatkan sekelompok orang mahasiswa sejumlah 8-10 orang di sebuah desa, dan disana mereka diharapkan melakukan kreasi guna pembangunan desa. Banyak yang mencibir program ini, dengan alasan pindah tidur, memperbodoh masyarakat, mengganggap mahasiswa belum mampu berkontribusi, program cari janda, putri pak lurah dan kembang desa,  dan teman mahasiswi dan segudang opini negatif lainnya. Namun menurutku, KKN ini sebenarnya menginspirasi Gerakan Indonesia Mengajar yang dikomandoi oleh Anis Baswedan, tentunya dengan format program dan waktu yang sedikit berbeda. Untuk mahasiswa Unpad tentunya penempatan di area Jawa Barat dan pengelompokkannya dilakukan oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat.

Daerah penempatanku adalah di desa Cipeujeuh, Kecamatan Pacet Kab. Majalaya. Sebuah desa sub-urban, karena lokasi desa ini hanya 1,5 jam perjalanan dari Bandung, berudara semi sejuk karena berdekatan dengan daerah bukit pangalengan dari tanjakan majalaya. Walaupun daerah sub-urban, namun desa ini juga merupakan daerah penghasil padi dan juga ikan air tawar yang cukup besar, yang mensuplai pasar-pasar utama di kota Bandung. Seperti layaknya kehidupan pedesaan, sebagaian besar warganya belum memperoleh pendidikan yang cukup tinggi. Pemilihan pemimpin/kepala desa masih didominasi oleh sistem kekerabatan “sawargi” yang cukup kental. Namun demikian, budaya agraris yang cukup kental tercermin dari keuletan mereka bekerja. Keakraban peserta KKN dengan karang taruna benar-benar terjaga dengan baik. Ternyata pembekalan sebelum KKN tentang kebiasaan warga desa sangat lah bermanfaat ketika peserta melakukan pendekatan dan sosialisasi ke warga. Nama-nama dalam satu tim yang masih saya ingat adalah Deddy H. Pakpahan, Purwanti Utami (Ami), Taufik, Hendrisiana, Ukon, Dindin, Heni, dan tiga teman lainnya.

Kedekatan pada saat KKN membuat kita sangat akrab, dan hingga saat ini beberapa dari kita masih berhubungan melalui media social. Insight yang kita dapat adalah, kita bisa mempelajari karakter seseorang, karena kedekatan membuat semuanya menjadi lebih gamblang dan terang benderang. Rasanya ini juga mengilhami pemikiran bahwa pertemanan dicirikan oleh adanya intensi, masukan, kritikan, saran, pengamatan, komunikasi, pemahaman, bantuan, dorongan, pemberian, penerimaan, peminjaman, penyimpanan, keceriaan, kesusahan yang dilakukan bersaling-salingan dan bersama-samaan. Orang yang sering memberi kritik dan masukan menurut saya adalah teman sejatinya, karena kalau sesorang tak merasa berteman tentunya sah-sah saja mereka berlaku cuek terhadap apa yang dilakukan yang lainnya.

Ada hal yang umum ketika kita berbicara tentang KKN, yang jelas hampir rata-rata memiliki kesamaan kondisi yaitu berat tubuh yang bertambah dua atau 3 Kg pasca KKN. Mungkin keteraturan hidup yang tak terlalu memikirkan perkulaiahan sesaat, nikmatnya suasana keakraban selama KKN, keteraturan  pola makan dan masih alaminya bahan makanan, membuat badan ini terasa sehat. Sehingga banyak yang mengatakn bahwa program KKN juga berdampak pada kebugaran  dan menjadi ajang refreshing bagi mahasiswa.

Skripsi Sederhana yang jadi acuan.

Ada satu hal yang unik bila berbicara skripsi, yaitu munculnya dua pandangan yaitu apakah skripsi dibuat sejelimet mungkin ataukah kita ambil yang pragmatis saja. Ternyata, kedua mashab ini berlaku juga di HI Unpad. Banyak rekan yang berkutat di metode penelitian yang sedikit njelimet dan ada yang hanya mengambil skripsi yang bersifat deskriptif saja. Yang penting bagi mereka cepat lulus dan cepat bekerja.

Seorang dosen yang baik pernah berkata kepada saya, kalau anda buat skripsi buatlah skripsi yang sederhana, tetapi dengan metode yang benar. Saya rasa pandangan ini sangat tepat, dan merupakan perpaduan pendekatan antara yang pragmatis dan metodologis.  Setelah bergelimang dengan berbagai macam topic dan kajian apa yang akan diambil,  disertai sedikit hunting keberbagai literature akhirnya diambilah kajian Perdagangan indtrnasional dengan locus kajian Australia. Ide yang muncul saat itu adalah ketika mencermati pembentukan Pasar Tunggal Eropa (PTE) dan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE). Hal ini tentunya sangat berdampak pada kebijakan perdagangan luar negeri Australia, yang selama itu sangat dekat hubungannya dengan mother countrynya yaitu Inggris, sekarang mother countrynya justru mengikatkan diri dengan mother-mother yang lain di Eropa. Apakah Australia tetap bertahan dengan gaya Eropanya, atau mau tidak mau harus beralih ke Asia.  Isu ini menjadi menarik, ketika beberapa Negara di Asia telah mendeklarasikan dirinya sebagai  NECs (New Emerging Countries) dengan tingkat pertumbuhan yang sangat tinggi seperti Korea, China, Japan, India, dan juga saat itu diprediksi adalah Indonesia, sebelum dihantam krisis multidimensional tahun 1998.

Yang unik dari skripsi ini bukannya pada skripsi itu sendiri, tetapi kisah yang muncul setelahnya. Setelah melirik-lirik gadis cantik yang sekarang menjadi penulis buku gagal. Akhirnya sekelumit kisah mengenai skripsi ini sedikit terkuak ketika mantan pancar, yang sekarang jadi istri, ingin menulis skripsi. Mantan pacar ini adalah adik kelas satu jurusan beda umur jauuuuuuhhh. Ia sempat menanyakan apakah kenal si penulis buku itu  nggak, jawaban klise ya tentunya kenal karena juga adik kelas di jurusan yang sama. Dengan wajah sedikit dibego-begoin, mencoba bertanya balik, kenapa kog nanya itu? Jawaban yang mengalir dari dia,  “Kog Judul skripsi dan untain kata diucapan terima kasihnya sama?. Yang beda satu ambil PTE yang satu ambil AFTA”. Ah itu koinsiden saja kali jawabku ringan, walaupun dalam hati selalu bertanya , apakah dia cinta? Sampai sekarang itu hanya ilusi semata.  Tapi dibalik itu ada kebahagian tersendiri ternyata skripsi murahan, tampak sederhana, dan sempat ingin ditolak oleh penguji karena lemahnya metodologi, justru menjadi acuan seorang idola.

Menyelesaikan kuliah dan tinggal di Bali

Setelah wisuda berakhir saya memutuskan kembali ke Bali. Pada awalnya sebagai waktu jeda. Sempat melamar beberapa pekerjaan di luar Bali, dan juga di Bali. Akhirnya ada satu pekerjaan yang membuat saya tinggal sedikit lebih lama. Saya diterima sebagai dosen honorer di sebuah universitas swasta ber plang nama “Pendidikan”. Disini saya melihat bahwa pendidikan yang diberikan oleh para dosen sepertinya sangat kurang kualitasnya. Ada beberapa dosen justru menanyakan referensi buku kepada saya. Dan yang ditanyakan adalah buku-buku yang sebenernya kalau di Jawa, sudah sangat “jadul”. Sangat menyedihkan sekali pendidikan disini. Sangat jauh berbeda dengan pendidikan di Jawa. Penghargaan terhadap tenaga pendidik juga kurang. Ada kesan terjadi sedikit “pertempuran terselubung” antar pemiliknya. Antar yayasan dengan rektoratnya. Yang terjadi masing-masing akhirnya menjagokan anak-anaknya untuk alih generasi di sekolah swasta ini. Satu hal yang unik, pada saat ujian tengah semester, Dekan pernah berbisik kepada saya, jangan kasih soal yang susah-susah. Rupanya dia tidak tahu bahwa siswanya sebenarnya pintar-pintar. Asalkan diberikan pendidikan yang baik, mahasiswa memiliki keyakinan dapat menjawab soal yang diberikan dengan baik. Setelah ditelusuri, beberapa dosen yang tak update pengetahuannya, dan seringkali tak memiliki passion untuk mengajar.

Ada pengalaman unik ketika menjadi dosen honorer, dimana menjadi pengajar full time hanya dibayar sebesar Rp. 35.000,- satu semester atau untuk 12 kali pertemuan. Sebagai asisten dosen, katanya besarnya cuma seangka tersebut. Lah dosen utamanya sendiri tak pernah mengajar, kog dapet gaji, makan gaji buta donk. Tentunya hal ini sangat mengenaskan bagi dunia pendidikan, karena ongkos beli bensin 1 bulan saja sudah sebesar itu. Tapi tentunya dibalik itu ada hikmahnya juga bahwa begitulah dunia pendidikan kalau sudah dinodai oleh unsur bisnis, yang terjadi adalah kurang sekali apresiasi terhadap pengajarnya. Pendidikan di kampus ini ternyata sedikit “menyeramkan”.

Balik ke Jakarta, kembali menjadi perantau

Setelah mengalami satu semester lebih sebagai asisten dosen mata pelajaran dalam bidang ilmu politik dan pemerintahan, saya mulai meyakini bahwa untuk mengikuti ritme yang dimiliki oleh kampus ini sepertinya tidak membuat kita maju. Apakah ini gambaran sistem pendidikan di Bali saat itu, saya belum dapat menyimpulkan. Akhirnya saya memutuskan kembali ke Jakarta. Dan rasanya Jakarta merupakan tempat yang lebih tepat untuk menjalani kehidupan saya.

Pada awalnya menjadi pengangguran bukanlah suatu yang menyenangkan. Mungkin hal ini juga dirasakan oleh para pengangguran lainnya. Dengan bantuan kakak Ipar, akhirnya saya mencoba melamar sebagai tenaga lepas harian di PT Telkom Tangerang. Saya ditempatkan di bagian transmisi. Tugas utamanya selain input data, juga sering terjun kelapangan membantu teknisi dalam memecahkan masalah jaringan. Lokasi kerjanya banyak daerah-daerah pinggiran seperti Mauk, Kronjo, Balaraja, Sepatan, Rumpin, serpong, Teluk  Naga, Rajeg dan beberapa daerah terpencil lainnya. Pekerjaannya kadangkala tak ringan, umumnya mengangkut tangga, dan menaiki tiang telpon untuk mengecek jaringan telpon yang terputus. Yang jelas berapa debu dan asap yang tersedot setiap hari. Kulit yang hitam semakin hitam dan dekil. Walaupun demikian pendapatan jauh lebih besar dari menjadi seorang dosen di Bali. Uang tersebut yang mendorong saya untuk mencicil sebuah rumah mungil di daerah elit Bumi Serpong Damai Cluster Nusa Loka T7 No 35.  Dari sepenggal cerita ini, yang tersisa adalah perasaan bersyukur.

Walaupun pekerjaan sebagai pekerja harian ini cukup memberikan nafkah pada saat itu, tapi hati kecil tentunya tak  mungkin berbohong. Kadangkala pada saat-saat istirahat sempat merenung, apakah pekerjaan ini adalah pekerjaan yang paling tepat, yang bisa menopang masa depan kita ke arah lebih baik. Pertanyaan selalu bergulir. Selalu mencoba untuk dicari hal-hal positif dan pembenarannya. Namun tekad perantauan yang berusaha ingin maju dan ingin mendapatkan pekerjaan yang tetap dan mapan selalu ada. Kapankah saya bisa mendapatkan penghasilan yang lebih, yang bisa saya tabung? Pertanyaan dalam hati ini, mendorong saya selalu untuk tidak patah semangat. Setelah melamar berbagai tempat dan mengikuti test dimana-mana.Baik tes untuk pegawai negeri maupun swasta akhirnya Rahmat Tuhan mengalir juga. Setelah menjalani proses tes yang panjang, pada hari yang sama ada tiga perusahaan yang menyatakan bahwa saya diterima sebagai karyawan, Yaitu Bank Windu Kencana, California Fried Chicken dan Astra Internasional. Tuhan ternyata berlebihan dan membuat pusing juga, gimana saya harus memutuskan ketika ketiga-tiganya menerima dan meminta penandatanganan perjanjian pada hari yang sama dengan lokasi yang berbeda dan berjauhan . Setelah tengok isi kontrak dengan Rute wilayah Asemka, terus naik angkot ke Kebun Jeruk dan setelahnya naik bus ke Sunter, akhirnya saya memilih salah satu perusahaan yang saat ini menjadi perusahan otomotif terbesar di Indonesia. Dasar pertimbangannya sangat sederhana saat itu, disamping perusahaan mana yang memberikan gaji yang terbesar ternyata posisi sebagai Management Trainee di bidang Human Resources, menjadi sebuah kebanggaan tersendiri.

Ada peristiwa unik yang sangat sayang untuk dilupakan. Peristiwa pembelajaran yang mungkin tidak lagi bisa dinikmati saat sekarang. Peristiwa itu sangat membekas dan memberikan makna terhadap arti kata “caring” yang sebenarnya. Sebagai karyawan baru, hari pertama adalah 15 Maret 1996 langsung mencari bus yang paling subuh berangkat dari Tangerang tujuan Pecenongan Jakarta Pusat. Daerah ini adalah tempat Kantor Pusat PT Astra Internasional, tempat bersemayamnya 7 malaikat Astra yang dipimpin Bapak TP Rahmat. Alhasil Jam 6 lewat 5 pagi telah sampai dikantor tersebut, bantu-bantu sekuriti buka pintu dan office boy bersih-bersih kantor. Sebuah perumpamaan ketika seseorang karyawan tiba dikantor kepagian. 5 menit tak lama berselang, tibalah seorang laki-laki berambut uban dan tersisir rapi, dengan menentang tas kantoran. Dengan santainya ia menoleh kekanan, ketika ingin menaiki tangga, ruangan yang dilewati adalah ruangan tamu kecil yang berisikan  seperangkat sofa kecil dengan daya tampung mungkin hanya 4 orang. Dengan ramahnya ia menyapa. Hai wima selamat pagi, apa khabar. Jam berapa kamu sampai? Dengan masih terbengong-bengong dan mencerna dalam pikiran siapakah Bapak yang satu ini, saya mencoba menjawab, baru saja Pak lima menit yang lalu. Serasa belum selesai mengekplorasi si Bapak ini, sudah meluncur pertanyaan kedua dari Beliau. Apakah kamu sudah absen? Dengan serta merta saya menjawab, “ Belum Pak.” Kalau belum mari saya tunjukkan bagaimana cara mengabsen. Apakah kamu sudah membawa kartu prik? Seperti seekor kerbau yang dicocok hidungnya, semua pertanyaan selalu terjawab dengan jawaban singkat. Belum Pak atau sudah Pak. Kalau sudah dapat kartu prik, tolong kamu tulis nama kamu di tempat yang ada tulisan namanya, dan tolong diingat sekarang tanggal berapa. Halaman yang ada tanggal saat ini harus menghadap kamu, dan tolong masukkan ke lobang mesin Prick Card, dan otomatis kartu sedikit tertelan dan akan balik ke posisi semula. Bila tulisannya berwarna merah itu berarti kamu telat masuk kantor atau terlalu cepat pulang. Setelah itu letakkan kartumu pada tempat yang disediakan dan diurut berdasarkan Abjad. Sungguh detil dan jelas metode pengajarannya. Karena saking kikuknya hari pertama, hingga Bapak itu pergi saya belum sempat menanyakan siapa dia. Ketika sedikit siang hari, dan saya sudah menempati kursi kerja saya, didampingi senior saya, tiba-tiba Bapak itu lewat. Dan cepat-cepat saya bertanya ke senior siapakah Bapak itu. Dengan terkekeh-kekeh dia menjawab, ah masak kamu nggak tahu. Itu pimpinan tertinggi dari tujuh malaikat disini. Ah ternyata beliau Bapak TP Rahmat. Perkenalan yang sangat mengesankan. Muncul pertanyaan, lah darimana dia tahu nama saya? Khan kita belum pernah bertemu. Dengan santai senior saya menjawab, “ satu bulan sebelum kamu masuk kesini, beliau selalu minta dibuatkan list foto berserta nama panggilan. Wah amazing….. seberapa banyak CEO yang aware dan care sama karyawan barunya dan terlagi begitu kuatnya ingatan beliau terhadap seseorang..

Setelah diterima, ujian selanjutnya adalah menunjukkan bahwa kita mampu. Pada fase awal, semua karyawan baru saat itu harus menjalani pelatihan saat itu. Kebetulan kita mendapatkan dua pelatihan yang berurutan saat itu. Satu pelatihan berkaitan dengan pembentukan kompetensi dasar (HRODP 2) dan yang satunya adalah berkaitan dengan pembentukan budaya dasar (ABTP 63). Begitu besar effort perusahaan ini untuk mendidik karyawannya. Dan memang hasilnya tidaklah mengecewakan, karena perusahaan ini terkenal dengan pengembangan SDM nya. Dari kedua pelatihan tersebut, lumayan mendapatkan 5 besar. Setelah mengalami pendidikan selama kurang lebih 2 bulan. Maka waktunya penempatan. Dari 12 orang peserta, hampir sebagian besar ingin ditempatkan di “Bluechip company” nya Astra saat itu seperti Toyota Group , Digital Astra Nusantara, Honda Motor, Sumalindo, dan bahkan Astra Internasional. Tak ada yang terpikir masuk Astra Motor (Asmo) karena pada saat itu tak terlalu bagus achievementnya. Eh la_dalah kog saya yang ditempatkan di Daihatsu, salah satu unit bisnis Group Asmo 3, dan yang menariknya untuk project penempatan di Karawang, suatu daerah yang saya kenal namanya dari syair Chairil Anwar. Hmm dimanakah negeri itu? Setelah OJT di Daihatsu Sunter selama 6 bulan, akhirnya saya ditempatkan di Karawang, di awal krisis tahun 1997. Akankah proyek ini selesai, pesismisme saat itu menyeruak dirasakan tidak hanya oleh saya, tetapi sebagian besar karyawan Daihatsu casting Plant, mengingat pabrik belum beroperasi, kondisi ekonomi nasional sedang terpuruk, produk yang dijual justru produk yang butuh uang besar untuk memilikinya. Namun rupanya Tangan Tuhan berbicara lain, Penetrasi Daihatsu justru sedang bagus-bagusnya di Jepang sana, sehingga ada upaya penyelamatan oleh Daihatsu Jepang dengan memperbesar sahamnya di Astra Daihatsu Motor. Langkah penyelamatan karyawan juga dilakukan dengan memindahkan tenaga kerja Daihatsu Indonesia ke Daihatsu Motor Co.Ltd di Jepang  melalui pelatihan bekerja. Jelas karyawan merasa diuntungkan karena mendapatkan 2 income yaitu Gaji pokok di Indonesia yang selalu dibayarkan dan juga Gaji di Jepang sebesar Y 169.000 per bulannya. Disinilah letak keunggulan principal Jepang yang all out membantu selama krisis berlangsung. Tentunya sebagai orang HRD saya tak ikut ke Jepang, karena masih ada karyawan lain yang harus dikelola di Indonesia.

Ketika 1 tahun penugasan, status karyawan masih sebagai karyawan Astra Internasional. Ketika menjelang berakhir, ada tawaran dari Astra Daihatsu Motor untuk menetap disana. Waktu itu pertanyaan umum disampaikan. Saya dapat apa boss kalau stay. Kepala divisi pabrik, dengan santainya berkata, saya akan kasih COP (Car Ownership Program) ke kamu. Kamu akan mendapatkan mobil Espass terbaru dengan grade terbaik. Espass bagi karyawan baru saat itu sudah sangat jauh dari cukup. Saya menjawab, jangan bercanda boss, dan beri saya berfikir satu atau dua hari. Ketika esok harinya, saya mendapatkan telpon dari kakak di Tangerang, bahwa ada kiriman mobil baru kerumah dengan plat masih merah putih, dan ia berkata bahwa ini dari Astra Daihatsu Motor. Sungguh mengagetkan sekali, jawaban belum diberikan mobil sudah nangkring di Garase depan rumah. Suatu psywar yang unik dan menunjukkan gaya kepemimpinan yang konsisten. Akhirnya babak baru sebagai karyawan Astra Daihatsu Motor dimulai.

Walaupun mobil tak sempat dinikmati, oleh karena sdh ditukar guling dibawah tangan ke orang tua, tetapi kesan dan perhatian atasan tentunya tak akan pernah terlupa. Ketika anda butuh orang stay, you harus siapkan retain programnnya. Itu nilai yang dapat ditangkap. Kemanakah uang tukar guling kendaraan tersebut sebesar 22 juta rupiah. Uang inilah yang menjadi penopang kepesertaan saya sebagai Mahasiswa Magister SDM di UI. Ternyata saya bisa mengenyam pendidikan oleh karena bantuan COP perusahaan.

Pada masa krisis ekonomi, banyak karyawan yang mengambil paket “golden shakehand”, termasuk juga semua atasan-atasan saya di HRD, dari Direktur, GM hingga Manager, dan kepala seksi yang tersisa tinggal 2 orang, yaitu saya dan Ibu Maria  Hartati yang sudah berumur 40 tahun lebih. Akhirnya atas permintaan manajemen, saya ditarik ke kantor pusat di sunter dan diberikan peluang memegang 2 pabrik. Mungkin momen yang tak terlupakan dan jarang terjadi, dimana seorang kepala seksi HR & GA, memiliki 4 atasan langsung yang berbeda lokasi dan fungsi. Benar-benar irit perusahaan saat itu. Atasan saya adalah Bapak Burhan Jamil Abdullah ( Plant Head Casting Plant Karawang), Andreas Handoyo (Plant Head Engine Plant Sunter), Guntur Mulja (Personalia Division Head Kantor Pusat) dan Haryanto (GA Division Head Kantor Pusat). Bisa dibayangkan kalau mereka mengajak meeting dalam waktu bersamaan, apakah badan ini bisa dibelah empat. Menyadari hal ini, maka pengaturan dan alokasi waktu yang efektif sangat menentukan.

Sejalan dengan perkembangan waktu dimana saham Astra Daihatsu Motor secara mayoritas telah dimiliki oleh Daihatsu Motor Co. Ltd, maka tanda-tanda suram mulai memudar. Tahun 2000 saya ditunjuk menjadi salah satu Dept. Head, dan baru di SK kan pada tahun 2001. Tanggung jawab utama adalah memegang rantai development dan memegang juga peran recruitment, suatu peran yang tak banyak laku saat itu ditengah banyaknya perusahaan yang mengurangi karyawan dan mengerem pelatihannya. Namun peran ini mulai bersinar, ketika Astra Daihatsu Motor berhasil mengalahkan Toyota Motor Manufacturing Indonesia dalam tender produksi kendaraan kembar Xenia Avansa. Karyawan Daihatsu yang tahun itu berjumlah 1.900 orang dan hampir semuanya karyawan tetap, dengan total produksi pertahunnya hanya 22.000 unit, mulai dihentakkan dengan keyakinan bisa (can do spirit) untuk bangkit dari keterpurukan. Sejalan dengan itu hingga resigned dari Astra Daihatsu Motor pada September 2009, saya sudah pernah mengepalai 6 Departemen dan karyawan sudah menjadi kurang lebih 12.000 orang dengan produksi sudah mencapai 350.000 unit pertahunnya. Tidak hanya menbangun tim rekrutmen yang solid dan membangun jejaring melalui kerjasama dengan guru-guru BKK STM di hampir lebih dari 40 Kabupaten di Jawa, juga dengan effort yang cukup gila membangun Learning Centre ADM, dari memulung meja, kursi bangku dan merayu Direktur Keuangan untuk menyediakan dana guna renovasi ex gedung service ADM menjadi Learning Center ADM. Peresmiannya berbarengan dengan Pelantikan Bapak Sudirman MR sebagai Vice Presdir ADM. Disamping itu legacy juga dilakukan dengan mengembangkan system portal HRIS, yang dimulai dengan mengkursuskan karyawan yang tadinya tidak bisa computer menjadi seorang programmer yang handal dan berpartner dengan siswa magang dari berbagai kampus yang ada. Peran yang tak kalah penting adalah mendevelop ICT (Intra Company transferee Program), yaitu sebuah program yang ditujukan untuk meningkatkan skill karyawan dengan menempatkan mereka selama 1 atau 2 tahun di Daihatsu Jepang. ICT program ini adalah program retensi terhadap talent-talent ADM. Sejalan dengan mengembangkan talent, saya juga diberikan penugasan untuk mendevelop program Skill Up System untuk para operator hingga foreman level yang lebih dikenal dengan Daihatsu Skill Up System (DSUS program), dengan mengirimkan sekelompok team secara bergantian ke Jepang sebagai pilot project untuk diterapkan di Indonesia.

Dalam membina harmonisasi hubungan industrial, maka legacy yang dibuat adalah dengan secara periodic membuat Supervisor Forum dengan BOD, Manager Forum dengan BOD, serta Bipartit meeting secara periodik setiap bulan dengan perwakilan serikat karyawan. Tadinya event olahraga 17-an dan event family day yang diselenggarakan secara parsial masing-masing pabrik, bisa disatukan, dan merupakan terobosan yang sangat penting dalam menghilangkan cilo-cilo yang ada di masing-masing Plant. Disamping itu perumusan peraturan perusahaan selalu berlangsung lancar, dan karyawan tidak pernah bersitegang masalah PP ini. Paket lebaran pun yang tadinya diikat-ikat plastik bisa dikemas dalam packaging yang lebih menarik. Demikian juga bantuan banjir juga selalu disiapkan hingga suatu ketika harus “smackdown” dengan penduduk dalam mensukseskan bantuan tersebut.

Semua legacy yang dibangun, seharusnya bisa menjadi suatu landasan yang kuat yang harus selalu dikembangkan secara terus menerus. Ini adalah monument yang tak terlupakan. (Baca artikel saya tentang monument di laman ini juga).

Berusaha menimang anak, kog susah amat yaks.

Setelah SK jabatan sebagai Departemen Head Recruitment dan People Development diterbitkan pada tahun 2001. Saya memberanikan untuk meminang mantan pacar saya, Putu Ikawaisa Mahatrisni, seorang gadis baik dan setia yang juga lahir dari keluarga yang sangat baik. Dan pernikahan dilakukan setelah kami berpacaran jarak jauh selama 5 tahun. Kalau dulu dikategorikan jauh, karena yang paling cepat hanya dapat ditempuh dengan  naik kereta, belum ada jalan tol Purbaleunyiitu saat. Tak terlalu banyak dinamika saat pacaran. Dinamika terjadi justru saat menjelang pernikahan. Dengan adanya perbedaan yang sedikit kontras walaupun berasal sama-sama dari Bali, namun latar belakang kedaerahan asal sangat besar pengaruhnya. Di utara Bali mungkin sedikit lebih egaliter daripada Bali selatan. Aturan mainnya pun di selatan sepertinya lebih ribet. Apalagi keluarga saya terkenal dengan “tata titi” yang runut. Dan memang ada aturan main yang tak tertulis bahwa tidak akan melakukan persembahyangan di rumah istri, kalau tidak di upacarai oleh pendeta. Tentunya hal ini tak mudah dipahami oleh Keluarga di utara, seolah-olah kog kaku sekali. Untuk ada ibu mertua yang pola kehidupannya hampir sama dengan apa yang kita jalankan di selatan, sehingga pernikahan dapat dilaksanakan.

Saat ini sudah hampir 12 tahun berumah tangga dan kami belum dikaruniai seorang anak yang akan meneruskan cita-cita kami membangun keluarga, masyarakat dan bangsa. Walaupun demikian kami selalu berdoa, agar dapat dikaruniai anak. Berbagai upaya telah dilakukan, namun memang belum berhasil, padahal hasil uji sperma dan telur menyatakan hasil yang baik. Secara keturunan belum ada tanda-tanda kemandulan yang menurun. Papah merupakan anak no 13 dari ibu yang berbeda, dan no 4 dari ibu yang sama. Ibu merupakan anak satu-satunya, itupun tak memiliki saudara kandung lebih karena ayahnya telah meninggal dunia saat muda. Ibu mertua merupakan anak ke 25 dari ibu yang berbeda dan anak ke 8 dari satu ibu yang sama. Sedangkan ayah mertua adalah anak ke 3 dari total 12 orang anak dari ibu yang berbeda, dan anak ke dua dari 9 anak dari ibu yang sama.

Kadangkala muncul perasaan tidak adil, karena banyak anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya, yang seharusnya dirawat dengan kasih sayang. Sedangkan upaya memungut anak bukan main ribetnya di negara ini. Dari masalah legal, masalah agama dan juga masalah suku. Ternyata ingin berkontribusi untuk mengadopsi ternyata tak mudah. Untuk mengobati kepedulian, akhirnya kami menyibukkan diri dalam kegiatan-kegiatan social, terutama aktif di Yayasan Anyo, sebuah yayasan yang menampung anak penderita tumor dan kanker dan membiayai pengobatan serta tempat tinggal selama berobat di Jakarta. Tiga motto saat muda mulai digunakan, berusahalah semaksimal mungkin, berdoalah semaksimmal mungkin…. sisanya ya tinggal pasrah jika kedua hal tersebut telah dilakukan.

Mulai berinvestasi property, untuk masa depan.

Tak terpikir rasanya memiliki beberapa property di jabodetabek. Kalau masih melihat pengalaman saat kuliah yang sempat tak makan karena tak memiliki uang. Yang ada hanya rasa bersyukur. Property pertama kali adalah sebuah rumah mungil di Nusa Loka BSD, yang dari sejak beli hingga dijual kembali, tak pernah ditinggali. Sejak saat ini mulai tumbuh budaya kreditan. Dan sejak saat itu pula, tak ada bulan tanpa setoran kredit. Tapi mungkin itu cara terbaik yang halal, ditengah ketiadaan dana cash. Seiring waktu, property bertambah, dengan memiliki rumah di kota wisata dan kapling tanah hook disebelah rumah yang telah dibeli sebelumnya. Syukurlah, kedua asset itu dapat dilunasi hanya beberapa tahun saja. Mengingat jalan Jakarta yang macet, akhirnya kami memiliki sebuah apartemen di pusat kota, apartemen kecil mungil seluas 76 meter persegi, dengan pengelola sahid group. Sepertinya apartemen ini sangat strategis, karena terletak di jantung segitiga emas, Satrio Casablanca, Rasuna Sahid dan Jalan Sudirman. Lokasinya sangat dekat dengan rencana monorail dan MRT yang sedang dibangun.

Membeli property adalah bentuk tabungan yang mungkin sangat berguna untuk masa akan datang, mengingat jarang sekali harganya turun. Tentunya diatur agar property yang dimiliki sedikit liquid artinya suatu saat mudah dijual bila membutuhkan uang. Semua harus disiapkan termasuk mengatur agar hutangan tak melebihi sekian persen dari pendapatan.

Menjual rumah tentunya tak saya sukai, sama seperti saat menjual rumah pertama kali di BSD yang dari sejak dibeli hingga dijual belum pernah ditempati. Uniknya hingga detik-detik terakhir belum yakin dan belum ingin hati ini menjualnya. Namun setelah melihat profile pembeli, rasanya hati ini terenyuh, karena pembeli adalah sebuah keluarga muda dengan dua anak kecil yang harus terpisah Jakarta - Ujung Pandang antara Anak dan Bapaknya oleh karena belum mampunya untuk membeli rumah yang memadai bagi perkembangan keluarga mereka di Jakarta.

Walaupun sudah memiliki beberapa asset, namun masih tetap ada keinginan untuk memiliki property lain yang dipergunakan sebagai tabungan hari tua nanti seperti kebun misalnya. Mudah-mudahan dapat segera diwujudkan. Dan dengan kekuatan pikiran dan usaha, yakin suatu saat dapat mewujudkannya.

Memutuskan untuk pindah perusahaan, merupakan keputusan yang berat melawan kenyamanan.

Kenapa Pak Harto jatuh dengan kesedihan, karena dia tak mau turun dengan kejayaan. Setelah membangun legacy yang sangat banyak, ada keinginan untuk pindah dari manufacturing ke sisi trading. Namun keinginan itu tak tersampaikan, karena rotasi itu tak mudah dilakukan. Rotasi itu berarti pindah perusahaan. Apakah perusahaan asal dan perusahaan tujuan dengan legowo meng-ikhlaskan, itu pun belum tentu ada jaminan. Walaupun hati ini saat itu sudah sangat legowo untuk dipindahkan ke industry manapun yang berbasis penjualan. Sementara di satu sisi, ada keinginan yang sangat besar untuk selalu meningkatkan kemampuan diri. Belajar tentang HR di manufaktur sepertinya sudah sangat lama dilakukan. Baik dari hanya sekedar pekerjaan administrative hingga pekerjaan yang ada mikir-mikirnya. Baik yang dilakukan secara otodidak maupun dikirim ke negeri sakura sana untuk belajar. Rasanya beberapa teori dan pendekatan sdh sangat dipahami, dan banyak legacy telah dibuat yang didukung oleh ilmu langsung dari perusahaan manufaktur berskala global. Namun rasanya masih belum banyak belajar dari sisi industri penjualan. Sebenarnya banyak peluang di Astra pernah ditawarkan. Namun transaksi pemberi dan penerima ternyata tak semulus yang diharapkan.

 

Akhirnya peluang itu datang, seorang teman menawakan sebuah posisi yang cukup menarik yaitu bergabung dengan sebuah perusahaan besar yang bernaung dalam group perusahaan Enesis. Pada awalnya ada keraguan, dan banyak muncul pertanyaan dalam pikiran. Apakah kamu yakin meninggalkan perusahaan sekelas Astra, lalu pindah ke sebuah perusahaan yang jauh lebih kecil skalanya walaupun pendapatannya pasti lebih besar. Astra itu idaman orang-orang loh. Pertentangan bathin ini berlangsung cukup lama, menggerakkan keyakinan dengan menghitung prosentasenya ternyata semakin hari semakin meningkat untuk segera meninggalkan kenyamanan. Goodbay Kenyamanan,  merupakan kalimat penutup kontribusi saya terhadap sebuah perusahaan yang selalu menjadi idola pencari kerja.

 

Banyak dinamika di perusahaan baru ini. Perusahaan ini adalah perusahaan keluarga, yang saat itu secara manajemen belum dikelola secara professional. Banyak sekali hal-hal yang harus ditingkatkan. Tidak hanya pada fungsi-fungsi kelembagaan HR, namun juga pada pola hubungan antar pimpinan yang diwarnai oleh dinamika yang sangat unik dan mencengangkan. Uniknya adalah memproses PHK pimpinan yang justru merekrut dan mewawancarai kita. Namun semua dinamika berhasil dilampaui, lebih karena spirit tidak neko-neko dan selalu ingin professional.

Bergabung dengan Kompas Gramedia (KG), Sebuah perusahaan local berjejaring Nasional.

Salah satu kekuatan media social, adalah karena penetrasinya begitu cepat dibandingkan media konvensional. Walaupun saya sangat gaptek teknologi, namun beberapa media social saya ikuti, seperti twitter, Facebook, Line, Watsapps, serta Linkedin. Perkenalan dengan Kompas Gramedia dimulai ketika ada invitation dari seorang recruiters KG, dan dia menawarkan sebuah lowongan kerja, yaitu mencari seorang HR GM. Dengan simpatiknya ia menwarkan saya peluang itu. Kembali kegalauan terjadi. Setelah 3 tahun di Enesis Group dan setelah melampaui tahapan interview, maka pada tanggal 1 September 2012, saya memutuskan bergabung dengan Kompas Gramedia.

Last modified on Monday, 11 May 2015 02:00
Super User

Tolong komentar dengan kata-kata yang tidak menyinggung

More in this category: « Foreword
Login to post comments