TX Nefario - шаблон joomla Форекс
Wednesday, 06 May 2015 00:00

Developing World Class HR Management System in KG: An Overview (2)

Rate this item
(1 Vote)

Pilar pertama adalah organisasi, sebuah konstruksi sosial yang mengatur kumpulan orang-orang dengan tujuan yang sama. Dari berbagai referensi dan benchmark, dapat disimpulkan bahwa sistem manajemen HR yang world class adalah yang bisa memastikan organisasi cukup lean, simple dan efektif sehingga bisa mencapai tujuannya dengan baik. Mee­Yan Cheung­Judge and Linda Holbeche (c) 2011, dalam bukunya Organization Development: A Practitioner’s Guide for OD and HR yang dengan komprehensif merangkum seluruh sejarah, teori dan best practice yang ada mengenai pengembangan organisasi menyatakan bahwa organisasi haruslah lean yang secara sederhana dapat diartikan menciptakan lebih banyak value dengan sumber daya yang lebih sedikit. Untuk bisa mencapai itu organisasi haruslah cukup simple (sederhana) namun efektif dalam menjalankan fungsi-fungsi-nya. It’s easier said than done, banyak sekali elemen dari organisasi yang harus didiagnosa, dianalisa dan dikembangkan agar bisa efektif, dibangun cukup sederhana sehingga dapat menjadi sebuah organisasi yang lean. Sebagai organisasi, fungsi HR juga harus menerapkan prinsip yang sama. Salah satu elemen dari organisasi yang sangat penting dan berkaitan dengan fungsi HR tentu saja adalah people atau sumber daya manusia-nya (SDM), sebagai pilar kedua.Sebuah Manajemen HR yang world class tentu saja harus didukung oleh SDM HR yang world class. Dave Ulrich dalam seriHuman Capital Study (HCS)-nya yang terbaru dan termuat dalam bukunya HR from the Outside In mengemukakan enam kompetensi yang harus dimiliki oleh praktisi HR yang world class: Strategic Positioner, Credible Activist, Capability Builders, Change Champions, HR Innovator & Integrator dan Technology Proponent. Seorang praktisi HR yang memiliki kompetensi strategic positioner berarti mampu menerjemahkan ekspektasi pelanggan dalam bentuk inisiatif HR (decoding customer expectation), duduk bersama dengan manajemen lini dalam mengembangkan agenda strategis organisasi (Co-crafting strategic agenda) dan secara lihai memahami konteks global dan menyerapnya dalam praktek-praktek HR (Interpreting Global Context).Pembahasan lebih detil untuk kompetensi lainnya akan dibahas di lain kesempatan, namun yang menjadi poin disini adalah jika KG ingin agar praktisi HR-nya berkelas dunia, maka enam kompetensi tersebut haruslah masuk dalam kamus kompetensi versi KG, baik secara implisit maupun eksplisit. Setelah organisasi dan SDM didalamnya yang berikutnya adalah mengenai budaya-nya. Tidak ada benar atau salah soal pilar ketiga ini karena budaya organisasi dapat berbeda antara satu dan yang lainnya, namun yang membedakan mereka yang world class dengan yang bukan adalah pada internalisasi budaya tersebut. Manajemen HR yang world class mampu memastikan budaya organisasi dapat terinternalisasi dengan baik melalui sebuah manajemen perubahan (change management) yang komprehensif dan konsisten. Hal ini terkait dengan kompetensi Change Champion yang harus dimiliki oleh praktisi HR diatas, yakni kemampuan untuk menginisiasi perubahan (initiating change) dan mempertahankan keberlangsungan perubahan (sustaining change). KG telah memiliki budaya organisasi yang cukup bagus dan telah terbukti dalam membawa perusahaan ini survive selama lebih dari setengah abad dan terus berkembang dengan menjanjikan. Tantangan klasik utama-nya dari organisasi yang semakin membesar adalah satu: memastikan budaya tersebut terinternalisasi dengan baik ke seluruh elemen di organisasi yang semakin banyak dan semakin kompleks. Pilar keempat dan terakhir yang akan dibahas lebih mendalam pada tulisan-tulisan berikutnya adalah mengenai sistem HR yang dibangun melalui bisnis proses HR yang standard dan world class.

Arki Sudito

Staff to Corporate HR Director

Jakarta, 13 March 2014

Last modified on Wednesday, 06 May 2015 23:53
Super User

Tolong komentar dengan kata-kata yang tidak menyinggung

Login to post comments