Office Politics yang Destructive
Ajang Pekerja Tak Kompeten
9 Juni 2020
“Persahabatan bagai kepompong, lalu berubah menjadi kupu-kupu”, adalah lirik sebuah lagu yang cukup trendy di akhir tahun 2010-an.
Mengamati perubahan ulat yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu sangatlah menarik. Siklus kehidupan terlihat tampak sederhana, namun yang tak terbayang adalah bagaimana perubahan dari seekor ulat, yang kadangkala menjijikkan, menggelikan dan bahkan menakutkan bisa berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan berwarna-warni. Transedentalnya, itulah kemahakuasaan Tuhan.
Transformasi kepompong kupu-kupu ini dapat dipersonifikasikan ketika seseorang mengalami perubahan dari sesuatu yang terkesan kurang menarik, kurang baik, kurang sesuai dengan pandangan umum yang ada dan bahkan mungkin kurang disukai oleh pihak lainnya, berubah menjadi sesuatu yang menarik, disukai dan dapat diterima oleh pihak lainnya. Namun seperti yang diuraikan diatas , proses perubahannya tentunya memiliki tahapannya sendiri, yang kadangkala tak banyak diketahui oleh pihak lainnya. Perubahan apa yang terjadi pada seekor kupu-kupu ternyata memerlukan beberapa tahapan yaitu dari telur, berubah menjadi larva/caterpillar, larva ini tumbuh menjadi ulat dan memakan daun dimana telur tersebut berada, selanjutnya pada fase tertentu ulat itu berubah menjadi kepompong, bertahan hingga beberpa hari lalu menetas menjadi kupu-kupu. Pada saat menetas, sayap kupu-kupu masih dalam kondisi lunak, kurang lebih tiga atau empat jam kemudian mulai menguat sejalan dengan terpompanya darah ke seluruh jaringan sayap.

Trend Digitalisasi membuat kajian HR semakin berkembang dan menarik. Bisnis tidak lagi berkembang secara konvensional namun sudah dibantu oleh daya dukung teknologi yang berkembang sangat pesat. Perkembangan industri kearah digitalisasi ini tidak hanya berdampak pada perubahan akan tuntutan kompetensi HR, namun berpengaruh pada tiga hal yang mendasar yaitu perubahan pekerjaan, perubahan cara kerja, maupun perubahan skill yang diperlukan untuk menuntaskan pekerjaan. Perubahan pekerjaan ditandai oleh munculnya kategori job baru menggantikan job yang ada. Perubahan cara kerja ditandai oleh adanya transformasi dimana dan kapan pekerjaan dilakukan. Perubahan skill yang dibutuhkan ditandai oleh Serangkaian skill baru baik yang dibutuhkan oleh pekerjaan lama ataupun baru akan mengalami perubahan.
Banyak lulusan baru yang bekerja di bidang Human Resources ditempatkan secara spesifik pada satu fungsi HR. Tidak banyak induksi yang diberikan kepada mereka terkait HR secara generik, mereka seolah-olah dari awal telah diarahkan untuk menguasai satu fungsi HR secara khusus. Banyak perusahaan menganggap bahwa ilmu HR dapat dipelajari secara mandiri, dengan dalih bahwa tidak cukup waktu dan sumber daya untuk mengajarkan secara detail tentang HR, atau lambat laun mereka akan tahu sendiri apa itu HR. Bahkan ada yang naif bahwa ilmu HR harusnya sudah dipelajari di sekolah. Mereka direkrut untuk bekerja, bukan belajar.Success is walking from failure to failure with no loss of enthusiasm.
Winston Churchill
Beberapa tahun yang lalu, sebelum grup lawak Srimulat bubar, saya pernah menonton adegan lucu ketika Tarzan tokoh utama episode saat itu bertanya kepada seorang pelawak lainnya yang berperan sebagai “batur” atau pembantu rumah tangga. Pertanyaannya sangat sederhana, tapi kualitasnya pertanyaannya mungkin akan membuat seorang professor akan mengernyitkan dahinya. Ia bertanya, bagaimana memberantas kemiskinan di Indonesia? Tentunya pertanyaan ini tidak mudah dijawab oleh seorang professor ekonomi dan bahkan presiden sekalipun, karena butuh berpuluh-puluh tahun untuk bisa merumuskan kebijakan yang belum tentu juga berhasil diimplementasikan agar bisa mengentaskan kemiskinan. Jawaban tak terduga dari pertanyaan itu dan sedikit kejam namun membuat kita tersenyum adalah sangat sederhana, yaitu “bunuhi saja yang miskin-miskin”. Walaupun terkesan kejam dan melanggar HAM, jawaban yang disertai canda terkesan pragmatis sifatnya.
Setelah melampaui fase perjuangan setengah abad pertama, ditengah-tengah adanya perasaan bersyukur, tersirat ada pekerjaan rumah cukup berat yang harus dipikirkan dan dijalankan Kompas Gramedia (KG) ke depan. Persaingan yang sangat ketat menuntut setiap unit usaha KG untuk bekerja lebih keras melebihi apa yang telah dilakukan sebelumnya. Tujuannya tentuagar pencapaian menjadi lebih baik, bertumbuh dan berkembang sesuai visi yang ditetapkan.
Menghadapi tantangan ke depan, setiap unit bisnis sejatinya memetakan ulang apa saja kebutuhan bisnis jangka panjangdan bagaimana cara untuk mencapainya. Dalam rangka tersebut, tentunya setiap elemen dalam unit bisnis KG terutama SDM-nya harus bertransformasi. SDM dipastikan harus lebih produktif dan profesional.
Dimana-mana kita sering mendengar orang berbicara tentang keteladanan baik itu di warung-warung kopi, di lingkungan kerja, dalam diskusi-diskusi akademis, bahkan dalam talk show di televisi dan kebanyakan cenderung dengan nada yang sedikit “miring”, ‘miris”, maupun kadangkala diwujudkan oleh munculnya perasaan “missing”. Temanya tak lebih sekitar kekecewaan dan kekhawatiran akan ketiadaan figure yang dapat diteladani dan dapat dijadikan contoh untuk diwujudkan dalam tindakan bersama dalam kehidupan sehari-hari dan juga ketidakpercayaan terhadap figure kepemimpinan yang sudah ada.
Penjaga gawang adalah istilah umum yang sering kita temui bila kita berbicara tentang sepakbola, olahraga terpopuler di dunia. Dia adalah orang yang ditunjuk untuk berdiri didepan gawang dan dibawah mistar, serta yang diberi kelebihan dapat memegang bola dikala sedang dimainkan kecuali keluar dari garis batas yang telah ditentukan. Perannya tentunya tidak ringan yaitu sebagai orang terakhir yang bertanggung jawab untuk mengamankan gawang dari kebobolan.
Memberikan pembelajaran kepada mahasiswa tentang kinerja ibarat kita berada di depan sebuah cermin, memandang dari ujung rambut hingga ujung kaki, apakah yang kita sampaikan juga menggambarkan apa yang telah kita lakukan. Seperti pada umumnya pembelajaran prilaku manusia (behavioral study) sangatlah tidak mudah, berbeda dengan saat kita mencari guru ataupun dosen yg berbicara tentang manajemen yang mengupas pembelajaran teoritis, tentulah sangat berbeda. Memberikan pembelajaran tentang prilaku seperti ibarat “menguliti” diri sendiri, oleh karena ada mirror effect didalamnya. Logika sederhana terlihat dari ilustrasi berikut yang dicontohkan oleh susahnya siswa untuk diajarkan untuk memerangi korupsi oleh dosen yang mereka ketahui sering suka korupsi, minimum korupsi waktu saat mengajar. Dapatkah orang mempercayai seorang Dr., ketika ingin mengobati sakit flu, sementara Dr. yang mengobati sedang batuk-batuk di depan pasien tersebut. Kepercayaan pasien bisa saja luntur, dan obat apapun rasanya tak manjur.
gan buruh melalui upaya menempatkan buruh dalam posisi yang sama dan berimbang dalam konteks mikro maupun makro ekonomi, serta dalam konteks social dan politik negara. Walaupun kebanyakan ide tersebut belum mampu diterapkan secara nyata dalam rangka perjuangan hak-hak untuk mendapatkan porsi yang adil dalam hubungan ketenagakerjaan, namun semangat untuk selalu menggaungkan ide-ide tersebut setiap tahunnya tidaklah pernah pudar.
Prof . Yohannes Surya , dalam blognya, menulis jawaban terhadap pertanyaan seorang penanya tentang apa arti sebenarnya dari kata ruang hampa. Saya mencoba mengutipnya sebagai berikut :